Terkini

Warga Serang Masih Hadapi Risiko Stunting Meski Ada Program Makan Bergizi Gratis

Angka stunting di Kabupaten Serang masih tinggi meski program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, sehingga diperlukan evaluasi untuk meningkatkan efektivitasnya.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat belum menunjukkan penurunan angka stunting secara signifikan di Kabupaten Serang pada tahun 2026. Berdasarkan data dari Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), tercatat sebanyak 2.679 balita atau sekitar 2,4 persen mengalami stunting di wilayah tersebut.

Kritik terhadap efektivitas program MBG

Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Serang Utara (Gamsut), Dzulfikar, menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum berjalan optimal dalam menurunkan angka stunting. Ia menjelaskan, MBG hanya menyediakan asupan bergizi dalam jumlah terbatas dan tidak diberikan setiap hari. Lebih jauh, Dzulfikar mengkritik minimnya pengawasan terhadap pola makan dan aktivitas anak di luar jam pelaksanaan program, yang sebenarnya sangat berpengaruh pada keberhasilan penanganan stunting.

Dzulfikar menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kurang efektif menekan angka stunting. Ia menjelaskan, “MBG hanya memberikan asupan yang hanya sekian persen dalam satu hari, hanya beberapa kadar saja,” sehingga kontribusinya terhadap penurunan stunting terasa terbatas.

Dzulfikar menilai Satgas MBG Kabupaten Serang belum menunjukkan kemajuan berarti dalam mengawal program tersebut. Ia juga mengkritik banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum menerapkan standar operasional prosedur dan standar kelayakan dapur dengan baik. Bahkan, beberapa kasus keracunan makanan sempat terjadi di sejumlah SPPG di Banten, yang menurutnya menjadi indikasi bahwa penerapan standar masih jauh dari harapan.

Upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Serang

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, Efrizal, mengungkapkan bahwa Pemkab Serang giat menjalankan berbagai strategi untuk menekan angka stunting. Mereka memperkuat peran Posyandu dan Puskesmas, terus memantau kondisi ibu hamil dan balita, serta rutin menyediakan makanan tambahan bagi kelompok yang membutuhkan. Selain itu, edukasi gizi tentang ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, pola makan seimbang, dan kebersihan juga digencarkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Kita juga memberikan edukasi tentang gizi dan pola asuh, meliputi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI (MPASI), makanan seimbang, serta kebersihan, jelas Efrizal pada Selasa (13 Oktober 2026).

Koordinasi lintas sektor pun terus diperkuat karena penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan Dinas Kesehatan. Faktor kemiskinan dan keterbatasan akses pangan ikut menentukan keberhasilan upaya ini.

Tantangan dan langkah ke depan

Efrizal mengungkapkan terdapat lima faktor utama penyebab stunting, yaitu asupan makanan dan gizi yang tidak mencukupi, kesehatan ibu dan kehamilan, pola asuh yang kurang tepat, penyakit infeksi berulang, serta faktor sosial ekonomi. Meskipun angka stunting di Kabupaten Serang relatif lebih rendah dibandingkan target nasional yang berada di bawah 16 persen, data tersebut belum dapat diklaim sebagai angka resmi tingkat nasional.

Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dinas Kesehatan Kabupaten Serang belum menerima data lengkap dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program ini seharusnya juga ditujukan kepada ibu hamil dan anak dengan status gizi kurang, tidak hanya terbatas pada anak sekolah.

Program ini seharusnya memberikan manfaat nyata dan dampak positif jika dijalankan sesuai kewajiban. Namun, hingga kini kami belum dapat menarik kesimpulan karena implementasi awal masih terfokus pada anak sekolah, dan data yang dibutuhkan belum tersedia, tuturnya.

Dinas Kesehatan berencana meningkatkan komunikasi dengan koordinator wilayah Program Makan Bergizi Gratis agar bantuan tepat sasaran, khususnya di daerah yang menjadi lokus stunting di Kabupaten Serang. Evaluasi menyeluruh dengan membandingkan data sebelum dan sesudah pelaksanaan program menjadi langkah penting untuk mengukur sejauh mana efektivitas MBG dalam menekan angka stunting.

Efrizal menegaskan, perhatian khusus harus diberikan pada kelompok penerima manfaat, kualitas makanan yang disediakan, kecukupan zat gizi, serta durasi pelaksanaan program agar hasilnya maksimal. Ia menambahkan, tanpa pengawasan menyeluruh terhadap aspek-aspek tersebut, upaya penanggulangan stunting tidak akan mencapai target yang diharapkan.

Sumber: Banten Raya

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *