Terkini

OJK Malang Gelar 109 Edukasi Keuangan, Jangkau 102.778 Peserta

OJK Malang menggelar 109 kegiatan edukasi bagi 102.778 peserta hingga September 2026, serta menyoroti kesenjangan literasi keuangan dan maraknya kasus penipuan.

Image Source: radarmalang.jawapos.com

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang terus memperluas kegiatan edukasi untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Hingga 30 September 2026, sebanyak 109 kegiatan edukasi telah dilaksanakan dengan jumlah peserta mencapai 102.778 orang.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya OJK Malang dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan sektor jasa keuangan. Edukasi dinilai penting agar masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga mampu memahami manfaat serta risiko yang menyertainya.

Pelaksanaan kegiatan tersebut melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas jangkauan edukasi, termasuk lembaga pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas masyarakat.

Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan Masih Menjadi Tantangan

Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, menjelaskan bahwa peningkatan akses masyarakat terhadap layanan jasa keuangan belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman yang memadai.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil survei pada 2025 yang tercatat sebesar 92,74 persen.

Capaian itu menunjukkan adanya peningkatan penggunaan dan akses masyarakat terhadap berbagai layanan keuangan formal.

Sementara itu, indeks literasi keuangan pada 2025 berada di angka 66,4 persen. Hasil SNLIK 2026 menunjukkan bahwa indikator literasi keuangan telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk tahun 2029 sebesar 69,35 persen.

Indeks inklusi keuangan pada 2026 juga telah melewati target nasional tahun 2029 yang ditetapkan sebesar 93 persen.

Meski menunjukkan perkembangan positif, Farid menegaskan bahwa perbedaan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan masih membutuhkan perhatian serius.

“Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah gap antara tingkat literasi dan inklusi keuangan,” ujar Farid.

Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat telah menggunakan berbagai produk dan layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko yang mungkin muncul.

Kesenjangan ini menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kualitas pemanfaatan layanan keuangan. Sebab, tingginya akses tidak selalu mencerminkan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial secara tepat.

Laporan Penipuan Mendominasi Layanan Konsumen

Persoalan literasi keuangan turut berkaitan dengan meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap berbagai bentuk penipuan.

Farid mengungkapkan bahwa OJK Malang menerima 2.997 layanan konsumen selama periode 1–30 September 2026 di Kota Malang.

Dari jumlah tersebut, laporan terkait penipuan menjadi kategori yang paling dominan dengan persentase mencapai 23,49 persen.

“Layanan didominasi oleh laporan penipuan dengan persentase 23,49 persen,” jelas Farid.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan penipuan masih menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan layanan konsumen di sektor jasa keuangan.

Selain laporan penipuan, OJK Malang juga menerima berbagai konsultasi mengenai aktivitas keuangan ilegal.

Tercatat sebanyak 244 layanan konsultasi berkaitan dengan persoalan tersebut, termasuk dugaan penipuan dan penyalahgunaan data pribadi.

Jumlah konsultasi itu memperlihatkan adanya kebutuhan masyarakat terhadap informasi dan pendampingan ketika menghadapi aktivitas keuangan yang berpotensi merugikan.

Penyalahgunaan data pribadi dan penawaran layanan keuangan ilegal menjadi persoalan yang perlu diwaspadai, terutama ketika masyarakat belum memiliki pemahaman memadai mengenai keamanan penggunaan produk keuangan.

Oleh karena itu, peningkatan literasi keuangan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan risiko serta penguatan perlindungan konsumen.

Edukasi Keuangan Tidak Cukup Hanya Memperluas Akses

OJK Malang menempatkan edukasi sebagai salah satu langkah untuk mengurangi kesenjangan antara penggunaan layanan keuangan dan tingkat pemahaman masyarakat.

Peningkatan indeks inklusi keuangan menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat dapat mengakses produk dan layanan keuangan. Namun, kondisi tersebut juga perlu diikuti dengan kemampuan memahami karakteristik, manfaat, biaya, serta risiko dari setiap produk yang digunakan.

Melalui kegiatan edukasi, masyarakat diharapkan mampu mengenali berbagai risiko sebelum mengambil keputusan terkait aktivitas keuangan.

Pemahaman yang lebih baik juga dapat membantu masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penawaran investasi maupun layanan keuangan yang tidak memiliki legalitas jelas.

Dalam konteks perlindungan konsumen, literasi keuangan menjadi salah satu faktor penting untuk membantu masyarakat mengidentifikasi potensi penipuan dan menghindari penyalahgunaan informasi pribadi.

Tingginya laporan penipuan yang diterima OJK Malang memperlihatkan bahwa peningkatan pemahaman masyarakat masih diperlukan meskipun akses terhadap produk keuangan terus berkembang.

Dengan demikian, keberhasilan inklusi keuangan tidak hanya diukur melalui jumlah pengguna layanan, tetapi juga perlu didukung kemampuan masyarakat dalam menggunakan layanan tersebut secara aman dan bertanggung jawab.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perluas Literasi Keuangan

Untuk meningkatkan efektivitas edukasi, OJK Malang terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

Kolaborasi tersebut melibatkan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), perguruan tinggi, hingga komunitas masyarakat.

Kerja sama lintas sektor dilakukan untuk memperluas jangkauan kegiatan edukasi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan.

Keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian dari strategi penyampaian informasi agar edukasi dapat menjangkau kelompok masyarakat dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman yang berbeda.

Melalui sinergi tersebut, OJK Malang berupaya mendorong pemanfaatan layanan keuangan yang tidak hanya mudah diakses, tetapi juga disertai pemahaman mengenai risiko serta perlindungan konsumen.

Peningkatan Literasi Jadi Fokus Berkelanjutan

Pelaksanaan 109 kegiatan edukasi yang menjangkau 102.778 peserta hingga akhir September 2026 menjadi salah satu bentuk komitmen OJK Malang dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan.

Meskipun indikator nasional menunjukkan perkembangan positif, kesenjangan antara tingkat penggunaan dan pemahaman masyarakat masih menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.

Kondisi tersebut semakin relevan dengan adanya ribuan layanan konsumen yang diterima OJK Malang, termasuk laporan penipuan serta konsultasi mengenai aktivitas keuangan ilegal dan penyalahgunaan data pribadi.

Melalui penguatan edukasi dan kerja sama lintas sektor, OJK Malang terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih cermat dalam memilih serta menggunakan produk jasa keuangan.

Langkah ini diharapkan dapat mendukung terbentuknya masyarakat yang tidak hanya memiliki akses keuangan lebih luas, tetapi juga mampu memahami risiko dan memanfaatkan layanan keuangan secara bijak.

Sumber: Radar Malang

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *