PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat melalui Aviation Fuel Terminal Husein Sastranegara menerima kunjungan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat di Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (28/10). Kunjungan tersebut meninjau Program Nyaah Ka Parahyangan, inovasi pengelolaan limbah peternakan bersama warga di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai Cikapundung.
Limbah diolah menjadi produk bernilai
Melalui program itu, sekitar 600 kilogram kotoran hewan atau kohe per bulan diolah menjadi biogas, pupuk organik, dan vermikompos. Biogas digunakan sebagai energi alternatif bagi rumah tangga peternak serta UMKM, sementara pupuk organik dan vermikompos dimanfaatkan untuk kebun kelompok dan kebun organik yang dikelola kader Posyandu.
Kebun tersebut membudidayakan sejumlah tanaman, antara lain kopi, labu siam, dan selada romain. Pengolahan kohe juga ditujukan untuk mengurangi limbah peternakan sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Penghematan LPG dan tambahan pendapatan
Pemanfaatan biogas disebut mampu menghemat biaya pembelian LPG bagi rumah tangga peternak dan UMKM MilkSuka hingga Rp6,57 juta per tahun. Anggota kelompok UMKM olahan susu sapi juga mengalami peningkatan pendapatan Rp509.000 per bulan, sedangkan Unit Produksi Pupuk Organik Motekar memperoleh tambahan pendapatan Rp809 ribu per bulan.
Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Pertama DLH Provinsi Jawa Barat, Yuditha Resgiaty, menilai pelibatan warga menjadi unsur penting dalam pengendalian pencemaran yang berkelanjutan.
“Ketika masyarakat ikut mengelola limbah, pengendalian pencemaran menjadi tanggung jawab bersama. Pendekatan ini juga mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan,” ujar Yuditha dalam keterangan resminya.
Peran penggerak masyarakat
Program tersebut juga didukung penggerak masyarakat atau local hero Atep Suhendar, yang mendampingi warga menerapkan pengelolaan limbah peternakan secara bertanggung jawab. Atep mengatakan pengolahan kohe menjadi biogas dan pupuk membuat warga melihat limbah peternakan masih bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB Reno Fri Daryanto menyatakan kunjungan DLH Jawa Barat penting untuk melihat penerapan inovasi sosial yang melibatkan warga dan memanfaatkan potensi lokal. Ia berharap Program Nyaah Ka Parahyangan terus berkembang, memperkuat kepedulian lingkungan, serta memberi manfaat ekonomi dan sosial berkelanjutan.
Program Nyaah Ka Parahyangan mendukung sasaran pengendalian pencemaran air dalam RPJMD Provinsi Jawa Barat 2025–2029. Program ini juga selaras dengan Asta Cita mengenai kemandirian energi, pembangunan desa, dan keselarasan dengan lingkungan, melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna di hulu DAS Cikapundung.
Sumber: ANTARA News Banten



Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!