Keluarga Jahidi dari Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, kini menanggung beban berat tunggakan biaya pengobatan puluhan juta rupiah setelah Jahidi menjalani operasi kepala akibat dugaan penusukan. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan membantu melunasi sisa biaya yang belum terbayar agar proses pemulihan Jahidi bisa berjalan lebih tenang.
Istri Jahidi, Lena, mengungkapkan bahwa biaya pengobatan suaminya di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon mencapai sekitar Rp150 juta. Dari jumlah tersebut, mereka baru mampu membayar sekitar Rp80 juta, sementara sisanya sekitar Rp70 juta masih menunggak. Rumah sakit pun memberikan tenggat waktu satu minggu untuk melunasi sisa pembayaran tersebut.
Harapan bantuan pemerintah dan aktivasi jaminan kesehatan
Lena mengharap pemerintah turun tangan membantu melunasi tunggakan biaya rumah sakit yang membebani keluarganya. Dengan kondisi keuangan yang terbatas, dia merasa dukungan tersebut sangat penting. Selain itu, Lena juga meminta agar kepesertaan jaminan kesehatan suaminya diaktifkan kembali agar biaya pengobatan yang masih berjalan bisa terbantu secara maksimal.
Lena mengungkapkan harapannya agar pemerintah bisa membantu melunasi biaya rumah sakit yang masih menumpuk, karena kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas membuat mereka kesulitan membayar tunggakan tersebut. “Harapannya bisa dibantu pembayaran rumah sakit karena kondisi kami kurang mampu dan masih ada tunggakan yang belum dibayar,” ujarnya.
Kronologi kejadian dan kondisi terkini korban
Setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit, Jahidi akhirnya diperbolehkan pulang untuk melanjutkan pemulihan di rumah meski kondisinya belum sepenuhnya stabil. Sebelumnya, pihak rumah sakit menahan kepulangan Jahidi karena menunggu pembayaran sebagian dari biaya pengobatan yang masih tertunggak.
Peristiwa penusukan itu terjadi pada Jumat, 29 September 2026, ketika Jahidi pulang dari bekerja di PT Yip Yuliana Inti Persada (YIP) lalu melanjutkan membantu pekerjaan di sebuah bengkel di kawasan Merak. Pada waktu subuh, ia ditemukan tidak sadar di bengkel tersebut, namun rincian kejadian masih belum terungkap secara jelas.
Bantuan dari pihak bengkel dan tuntutan keluarga
Biaya awal pendaftaran perawatan menggunakan biaya umum yang dikeluarkan oleh pihak bengkel. Pemilik bengkel sebelumnya menyatakan kesediaan menanggung biaya dengan skema pembagian fiktif, namun hingga kini baru memberikan bantuan sebesar Rp20 juta.
Keluarga Jahidi berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera membantu menyelesaikan biaya pengobatan dan memberikan kepastian atas penanganan kasus yang menimpa Jahidi.
Biaya pengobatan Jahidi mencapai Rp150 juta, namun hanya sekitar Rp80 juta yang sudah terbayar, sisanya sekitar Rp70 juta masih menunggak. Rumah Sakit Krakatau Medika memberikan tenggat waktu satu minggu untuk pelunasan. Lena berharap pemerintah bisa membantu melunasi tunggakan tersebut karena kondisi ekonomi keluarga mereka yang terbatas. “Harapannya bisa dibantu pembayaran rumah sakit karena kondisi kami kurang mampu dan masih ada tunggakan yang belum dibayar,” ujarnya.
Keluarga Jahidi kini menanti bantuan pemerintah untuk melunasi biaya rumah sakit yang masih menumpuk dan mengaktifkan kembali jaminan kesehatan suami Lena. Mereka berharap dukungan ini bisa meringankan beban finansial dan memperlancar proses pemulihan Jahidi setelah operasi akibat penusukan di kepala. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, keluarga ini sangat membutuhkan uluran tangan agar Jahidi bisa fokus sembuh tanpa khawatir soal biaya pengobatan.
Sumber: Fakta Banten


Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!