Harga Minyak Turun Usai Pertemuan Saudi dan Iran
Harga minyak melemah tipis pada awal pekan setelah Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran pada Senin, 26 Oktober 2026. Perkembangan diplomatik ini menahan reli minyak yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir di tengah ketegangan kawasan.
Mengutip CNBC, Selasa, 27 Oktober 2026, kontrak berjangka Brent turun 91 sen dan ditutup di US$115,81 per barel, setelah sempat menembus US$117 pada awal sesi. West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$1,51 menjadi US$101,76 per barel, meski sepanjang Oktober harga minyak masih naik sekitar 12 persen.
Pertemuan di Teheran
Pertemuan Khalid bin Salman dengan Pezeshkian juga dihadiri Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei. Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dan kepala intelijen Turki Ibrahim Kalin turut hadir; Pakistan dan Turki merupakan anggota pakta pertahanan yang melibatkan Arab Saudi.
Dialog tersebut berlangsung ketika kelompok Houthi di Yaman yang berafiliasi dengan Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir. Houthi mengklaim telah menembakkan rudal ke bandara internasional di Riyadh serta mengerahkan drone ke sejumlah stasiun pemompaan minyak pada Senin, tetapi otoritas Saudi belum mengonfirmasi klaim itu.
Risiko pasokan dan penyulingan
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran investor atas kerentanan infrastruktur energi Arab Saudi dan kemungkinan gangguan terhadap produksi, penyulingan, serta ekspor. Kekhawatiran itu muncul ketika persediaan global menipis setelah delapan bulan konflik dan Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat berada pada level terendah sejak 1982.
Kepala Investasi Gallo Partners Michael Alfaro menilai ketidakpastian geopolitik telah menambah premi sekitar US$20 per barel pada harga minyak saat ini. Ia memperingatkan serangan besar terhadap jaringan pipa Timur-Barat Arab Saudi atau infrastruktur penyulingan dapat memicu lonjakan harga, sementara harga di atas US$120 per barel berisiko menekan permintaan.
“Tantangan yang sesungguhnya terletak pada kapasitas penyulingan,” ujar Alfaro.
Menurut Alfaro, gangguan dapat berkembang menjadi persoalan struktural hingga 2027 dan seterusnya. Ia juga mengatakan perusahaan minyak masih menahan investasi besar meski jumlah anjungan pengeboran bertambah, karena volatilitas harga dan risiko geopolitik.
“Kami tidak benar-benar melihat adanya penambahan belanja modal (capex) yang besar untuk menghadirkan anjungan pengeboran baru atau memulai produksi baru,” ungkapnya.
Langkah penguatan pasokan
Di tengah risiko tersebut, menurut menteri energi kedua negara, Arab Saudi berencana mulai menyimpan minyak mentah di Singapura pada paruh kedua 2027 guna memperkuat ketahanan rantai pasok di Asia. Di Amerika Serikat, Departemen Energi pada Jumat juga memberi izin pelepasan hingga 400.000 barel dari Cadangan Minyak Strategis untuk mengatasi gangguan pasokan di sebuah kilang di Louisiana, sementara prospek tambahan suplai produsen AS masih belum jelas.
Sumber: Merdeka.com (Google News)




Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!