Terkini

IHSG menguat ke 5.397,34 saat pemulihan berlanjut

IHSG dibuka menguat pada Jumat pagi setelah koreksi signifikan pekan lalu. Pasar juga mencermati kebijakan BEI, lonjakan harga minyak, dan agenda bank sentral global.

Images Source : ANTARA News Jambi

IHSG bergerak menguat seiring pemulihan lanjutan pascakoreksi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menguat pada pembukaan perdagangan Jumat, melanjutkan pemulihan setelah koreksi signifikan pada 16 dan 19 Oktober. IHSG naik 9,44 poin atau 0,18 persen ke level 5.397,34, sedangkan Indeks LQ45 bertambah 0,56 poin atau 0,10 persen menjadi 545,13.

Level teknikal IHSG

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai IHSG berpeluang menguji resistance 5.400. Jika mampu bertahan di atas level itu, indeks berpotensi melanjutkan penguatan, sementara 5.300 menjadi support terdekat untuk menjaga momentum positif.

“Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji level resistance 5.400 dan jika bertahan di atas level tersebut berpotensi untuk melanjutkan penguatan. Sedangkan level 5.300 menjadi support terdekat untuk menjaga momentum positif dan mengantisipasi potensi tekanan jual. Jika menembus level tersebut, berpotensi menguji level support berikutnya di 5.180-5.200,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya, di Jakarta, Jumat.

Kebijakan BEI dan risiko suku bunga

Dari dalam negeri, BEI akan mengecualikan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. Saat ini terdapat 80 saham kategori HSC, dan sejumlah saham dalam kategori tersebut juga mendapat sanksi atas pelanggaran pasar modal, termasuk DSSA, BREN, dan CUAN.

BEI sebelumnya menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah saham secara asimetris dari 15 persen menjadi 7 persen untuk periode 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. Regulator juga menambah keterangan afiliasi untuk saham dengan kepemilikan 1 persen, sebagai respons atas konsultasi MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Ratna mengatakan kenaikan harga minyak dapat memperbesar tekanan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran moneter. Kondisi itu meningkatkan risiko suku bunga Bank Indonesia dan The Fed bertahan tinggi atau kembali naik, yang berpotensi menekan pasar saham dan obligasi serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan.

Minyak dan bursa global

Sektor energi, terutama minyak dan gas, dinilai berpotensi diuntungkan oleh kenaikan harga minyak. Sektor batu bara juga dapat memperoleh sentimen positif dari kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global, meski dampaknya bergantung pada harga komoditas dan fundamental masing-masing emiten.

Fokus pasar pekan depan tertuju pada keputusan The Fed dan Bank of Japan. Harga minyak Brent pada Kamis (22/10) menguat 4 persen menjadi 99 dolar AS per barel akibat kekhawatiran eskalasi ketegangan di Timur Tengah, termasuk laporan rencana serangan kembali terhadap Iran serta serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi dan bandara di Arab Saudi.

Bursa Eropa pada Kamis kompak melemah, dengan Euro Stoxx 50 turun 1,96 persen, FTSE 100 turun 0,26 persen, DAX turun 1,07 persen, dan CAC 40 turun 1,39 persen. Di Wall Street, S&P 500 turun 1,21 persen, Nasdaq Composite turun 2,60 persen, sementara Dow Jones menguat 0,02 persen; di Asia pagi ini Nikkei turun 1,44 persen, Shanghai turun 1,40 persen, Hang Seng naik 0,07 persen, Kospi turun 2,21 persen, dan Straits Times naik 0,57 persen.

Sumber: Antara News Jambi

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *