Terkini

Pemkab Bogor Kembangkan Sentra Buah Unggulan di Tingkat Desa

Pemkab Bogor menyiapkan program satu desa satu produk untuk mengembangkan sentra mangga dan alpukat dengan penanaman di Desember 2026 di sejumlah desa terpilih.

Image Source: radarbogor.jawapos.com

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor menyiapkan pengembangan kawasan pertanian berbasis komoditas unggulan melalui program One Village One Product (OVOP) atau Satu Desa Satu Produk. Program ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi hortikultura dengan membentuk sentra produksi buah yang disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing desa.

Melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun), pemerintah daerah menargetkan pelaksanaan program tersebut dimulai pada penghujung 2026 dan berlanjut sepanjang 2027. Pengembangan akan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan sejumlah desa yang memiliki potensi untuk menjadi kawasan penghasil buah unggulan.

Bupati Bogor Rudy Susmanto menjelaskan bahwa konsep OVOP bertujuan mengembangkan keunggulan pertanian berdasarkan potensi setiap wilayah. Pemerintah daerah akan mengelompokkan desa-desa ke dalam kawasan produksi atau klaster sesuai jenis tanaman buah yang dinilai cocok untuk dikembangkan.

Mangga dan Alpukat Jadi Komoditas Unggulan

Dalam tahap awal, Pemkab Bogor merencanakan pembentukan sentra pertanian untuk komoditas mangga dan alpukat. Kedua jenis buah tersebut akan dikembangkan melalui pengelompokan desa berdasarkan potensi lahannya.

Rudy menyampaikan bahwa program OVOP belum akan diterapkan secara menyeluruh di 416 desa yang ada di Kabupaten Bogor. Pemerintah daerah terlebih dahulu memilih sejumlah desa untuk dikembangkan sebagai sentra produksi komoditas tertentu.

Sebagian desa akan dipersiapkan menjadi kawasan pengembangan mangga, sedangkan desa lainnya diarahkan menjadi sentra alpukat. Pengelompokan ini menjadi pendekatan pemerintah daerah dalam memusatkan pengembangan komoditas sesuai potensi wilayah.

Keterangan tersebut disampaikan Rudy saat mengunjungi kawasan perkebunan Distanhorbun Kabupaten Bogor pada Selasa, 3 November 2026.

Penerapan sistem klaster diharapkan dapat memberikan arah pengembangan pertanian yang lebih terfokus. Dengan penentuan komoditas unggulan, setiap desa memiliki peluang untuk membangun identitas sebagai kawasan penghasil buah tertentu.

Persiapan Bibit Dimulai Akhir November 2026

Pemerintah Kabupaten Bogor telah menyusun tahapan awal untuk merealisasikan program pengembangan sentra buah unggulan. Persiapan bibit dijadwalkan dimulai pada akhir November 2026, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan penanaman pada Desember tahun yang sama.

Penentuan waktu penanaman mempertimbangkan kondisi musim penghujan yang mulai berlangsung. Ketersediaan air dari curah hujan diharapkan dapat mendukung pertumbuhan tanaman pada tahap awal pengembangan.

Menurut Rudy, momentum musim hujan perlu dimanfaatkan agar pelaksanaan penanaman dapat segera dilakukan. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mempercepat realisasi program pertanian yang telah direncanakan.

Pemkab Bogor menargetkan tanaman buah yang dikembangkan melalui program tersebut mulai menghasilkan panen dalam kurun waktu satu hingga dua tahun setelah penanaman.

Target itu menjadi acuan awal dalam membangun sentra buah di sejumlah desa. Apabila tahapan pengembangan berjalan sesuai rencana, setiap kawasan yang terpilih diharapkan memiliki komoditas buah unggulan yang dapat diproduksi secara berkelanjutan.

Bantuan Bibit Jeruk Limun Juga Disiapkan

Selain pengembangan mangga dan alpukat, Pemerintah Kabupaten Bogor merencanakan penyaluran bantuan bibit jeruk limun kepada sejumlah petani.

Bantuan tersebut dijadwalkan diberikan menjelang akhir 2026 sebagai bagian dari dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan komoditas hortikultura.

Penyediaan bibit jeruk limun memperluas jenis tanaman yang mendapatkan perhatian dalam agenda pembangunan pertanian daerah. Dengan demikian, pengembangan tidak hanya berfokus pada dua komoditas utama yang akan dijadikan sentra produksi desa.

Namun, pemerintah daerah belum merinci jumlah bibit jeruk limun yang akan disalurkan maupun wilayah penerima bantuan tersebut.

Komoditas Pala yang Telah Menembus Pasar Ekspor Turut Didukung

Penguatan sektor perkebunan di Kabupaten Bogor juga mencakup pengembangan tanaman pala. Komoditas ini telah dibudidayakan di sejumlah wilayah dan sebagian hasil produksinya berhasil memasuki pasar internasional.

Rudy mengungkapkan bahwa pemerintah daerah tetap memberikan dukungan terhadap kegiatan pengelolaan pala yang telah memiliki akses ekspor.

Keberadaan komoditas pala dengan jangkauan pemasaran luar negeri menunjukkan bahwa sektor perkebunan Kabupaten Bogor memiliki potensi yang tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pasar domestik.

Dukungan terhadap pala menjadi pelengkap agenda pengembangan pertanian daerah, bersamaan dengan persiapan pembentukan sentra mangga, alpukat, dan bantuan bibit jeruk limun.

Meski demikian, rincian mengenai bentuk dukungan tambahan bagi petani pala maupun negara tujuan ekspor belum dijelaskan lebih lanjut.

Pengembangan Bertahap Sesuai Potensi Desa

Melalui program OVOP, Pemerintah Kabupaten Bogor berupaya membangun pola pengembangan pertanian yang lebih terarah dengan menempatkan potensi lokal sebagai dasar penentuan komoditas.

Pendekatan tersebut memungkinkan desa-desa yang terpilih memusatkan kegiatan pengembangan pada jenis tanaman yang telah ditetapkan. Pemerintah daerah juga memiliki tahapan pelaksanaan yang lebih jelas, mulai dari penyediaan bibit hingga penanaman dan target awal produksi.

Dengan jadwal penanaman pada Desember 2026, Pemkab Bogor menargetkan hasil pengembangan sentra buah mulai terlihat dalam satu hingga dua tahun berikutnya.

Program ini diharapkan mampu memperkuat identitas komoditas unggulan di tingkat desa sekaligus memberikan arah baru bagi pengembangan sektor hortikultura Kabupaten Bogor.

Melalui pembentukan klaster pertanian dan dukungan terhadap berbagai komoditas perkebunan, pemerintah daerah berupaya mengoptimalkan potensi produksi pertanian lokal secara bertahap dan berkelanjutan.

Sumber: Radar Bogor

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *