Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis (22/10), setelah meningkatnya serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran keamanan di Timur Tengah. Harga minyak Brent naik US$1,29 atau 1,2 persen menjadi US$110,11 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 97 sen atau 1 persen ke US$98,12 per barel.
Kenaikan tersebut berbalik dari perdagangan Rabu (21/10), ketika Brent ditutup relatif stabil dan WTI sempat turun 67 sen. Pemerintah AS juga berencana menarik anggota keluarga staf dari sejumlah kedutaan dan konsulat di Timur Tengah seiring naiknya risiko keamanan.
Serangan di Arab Saudi
Gelombang serangan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menjadi salah satu pemicu lonjakan harga. Pada Rabu, serangan menghantam sejumlah target vital di Arab Saudi, termasuk Bandara Sipil Dammam yang menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.
Ladang minyak Saudi juga menjadi sasaran. Dua orang dilaporkan tewas akibat serangan drone.
Ancaman Jalur Minyak
Ancaman terhadap distribusi minyak turut berlanjut di kawasan. Data Kpler mencatat setidaknya 18 serangan terhadap kapal tanker dalam dua pekan terakhir.
Analis LSEG memperingatkan jangkauan serangan Iran kini meluas hingga Teluk Oman, melampaui Selat Hormuz. Kondisi itu dinilai dapat mengganggu pemuatan minyak mentah dan aktivitas transfer antar-kapal di wilayah tersebut.
Stok Minyak AS Menyusut
Dari sisi pasokan, Badan Informasi Energi AS melaporkan stok minyak mentah AS menyusut 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan lalu. Penurunan itu lebih dalam dibanding proyeksi analis dalam survei Reuters yang memperkirakan pengurangan 820 ribu barel.
Di tengah ketegangan tersebut, media lokal Iran melaporkan adanya ledakan di Kota Sirik, Iran selatan, pada Rabu (21/10). Sifat dan asal-usul ledakan tersebut belum diketahui secara pasti.
Sumber: CNN Indonesia




Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!