Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengembangkan inovasi pengolahan limbah organik dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) atau magot. Penelitian tersebut diarahkan untuk mengurangi persoalan limbah makanan sekaligus menghasilkan produk yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Inovasi ini mengedepankan konsep ekonomi sirkular, yakni memanfaatkan kembali sisa bahan makanan melalui proses biokonversi biologis. Dalam proses tersebut, larva magot menguraikan bahan organik sehingga menghasilkan biomassa larva dan residu pengolahan yang dikenal sebagai kasgot.
Dosen Polinela, Sarono, menjelaskan bahwa penelitian tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi potensi berbagai jenis limbah makanan sebagai bahan pengolahan menggunakan larva BSF.
Penelitian ini juga menjadi langkah awal dalam menilai efektivitas pengolahan limbah organik yang berpotensi dihasilkan dari kegiatan penyediaan makanan dalam Program MBG.
Enam Jenis Limbah Makanan Jadi Objek Penelitian
Dalam pengembangannya, tim peneliti Polinela melakukan pengujian terhadap enam jenis sisa makanan, meliputi ayam goreng, lele goreng, tahu-tempe goreng, telur, roti tawar, dan roti manis.
Pengujian dilakukan dengan membandingkan dua kondisi fermentasi spontan, masing-masing selama tiga hari dan 15 hari, untuk mengetahui perbedaan hasil pengolahan bahan organik.
Sarono mengungkapkan bahwa hasil penelitian memperlihatkan variasi efisiensi biokonversi berdasarkan jenis bahan makanan yang digunakan.
Limbah lele goreng mencatat efisiensi biokonversi tertinggi secara numerik, yakni mencapai 23,05 persen. Sementara itu, limbah roti tawar menghasilkan efisiensi sekitar 18,52 persen, disusul roti manis sebesar 18,39 persen.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa karakteristik bahan makanan memiliki peran penting dalam menentukan efektivitas proses pengolahan menggunakan larva magot.
Dengan demikian, pemilihan jenis limbah menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan metode biokonversi agar hasil pengolahan dapat lebih optimal.
Kasgot Berpotensi Dimanfaatkan untuk Pertanian
Selain mengukur efisiensi biokonversi, penelitian Polinela juga mengamati bobot kasgot yang dihasilkan dari pengolahan berbagai jenis limbah makanan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa limbah roti manis menghasilkan bobot kasgot tertinggi, yaitu sekitar 165,67 gram. Sebaliknya, bobot kasgot terendah ditemukan pada pengolahan limbah lele goreng, yakni sekitar 128,31 gram.
Kasgot merupakan residu organik yang tersisa setelah proses penguraian bahan makanan oleh larva BSF. Material ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pupuk organik maupun pembenah tanah.
Sementara itu, biomassa larva magot yang dihasilkan dari proses pengolahan berpeluang dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan.
Meski memiliki potensi pemanfaatan di sektor peternakan dan pertanian, penggunaan produk hasil biokonversi tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
Pengujian mutu dan keamanan harus dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku sebelum produk dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Buka Peluang Kerja Sama Perguruan Tinggi dan Pelaku Usaha
Pengembangan teknologi pengolahan limbah menggunakan magot tidak hanya ditujukan untuk kepentingan penelitian, tetapi juga membuka peluang kolaborasi antara institusi pendidikan dan berbagai pihak yang berkaitan dengan pengelolaan limbah serta pemanfaatan produk hasil biokonversi.
Sarono menilai bahwa kerja sama dapat dikembangkan dengan melibatkan perguruan tinggi, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelaku usaha budi daya magot, hingga industri yang berpotensi menggunakan produk hasil pengolahan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan teknologi sekaligus membuka peluang kegiatan ekonomi produktif berbasis pengelolaan limbah organik.
Namun, sebelum teknologi diterapkan secara lebih luas, diperlukan pelaksanaan proyek percontohan untuk mengukur kelayakan operasional maupun ekonominya.
Beberapa aspek yang harus dipertimbangkan meliputi ketersediaan bahan baku limbah, kebutuhan tenaga kerja, biaya operasional, kemampuan kapasitas pengolahan, serta potensi pasar dari produk yang dihasilkan.
Kajian tersebut diperlukan agar penerapan teknologi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pengelolaan limbah di lapangan.
Dorong Pengelolaan Limbah MBG Berbasis Ekonomi Sirkular
Pengembangan inovasi magot oleh Polinela memperlihatkan adanya peluang untuk mengubah pendekatan pengelolaan limbah organik dari sekadar penanganan sampah menjadi pemanfaatan sumber daya.
Melalui proses biokonversi, sisa makanan yang sebelumnya menjadi limbah berpotensi diolah menjadi produk yang memiliki kegunaan bagi sektor pertanian dan peternakan.
Pendekatan ini juga dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung pengelolaan limbah organik yang berasal dari kegiatan penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis.
Dengan dukungan penelitian lanjutan, pengujian keamanan, serta kajian kelayakan penerapan, teknologi tersebut berpotensi menghadirkan manfaat lingkungan sekaligus menciptakan peluang usaha berbasis pengolahan limbah.
Inovasi Polinela diharapkan dapat menjadi landasan pengembangan sistem pengelolaan limbah yang lebih produktif, sehingga sisa makanan dari Program MBG tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber daya yang memiliki peluang untuk dimanfaatkan secara ekonomis.
Sumber: Antara News Lampung


Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!