Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menargetkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor energi dan sumber daya mineral mencapai Rp165 triliun sepanjang 2026.
Target tersebut melampaui nilai yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pemerintah berupaya meningkatkan penerimaan melalui optimalisasi pengelolaan sumber daya energi, penguatan sektor pertambangan, serta percepatan pengembangan industri hilirisasi.
Bahlil menyampaikan bahwa jajaran Kementerian ESDM perlu bekerja lebih maksimal untuk merealisasikan target penerimaan yang lebih tinggi dibandingkan ketentuan awal.
“Saya menargetkan PNBP kita, dari target Rp137 triliun, harus bisa mencapai Rp165 triliun,” ujar Bahlil dalam keterangannya yang disampaikan pada Jumat (23/10/2026).
Berdasarkan target APBN 2026 sebesar Rp136,18 triliun, sasaran penerimaan Rp165 triliun menunjukkan peningkatan ambisi pemerintah dalam mengoptimalkan kontribusi sektor ESDM terhadap pendapatan negara.
Realisasi PNBP ESDM Capai Rp127,71 Triliun hingga September 2026
Kinerja penerimaan negara dari sektor ESDM menunjukkan perkembangan menjelang akhir tahun anggaran 2026.
Hingga September 2026, realisasi PNBP sektor tersebut telah mencapai Rp127,71 triliun atau sekitar 93,78 persen dari target yang tercantum dalam APBN.
Dengan capaian tersebut, pemerintah masih memiliki waktu tiga bulan pada tahun anggaran berjalan untuk mengejar target penerimaan yang lebih tinggi.
Jika dibandingkan dengan target baru sebesar Rp165 triliun, masih terdapat selisih sekitar Rp37,29 triliun yang perlu dipenuhi hingga akhir Desember 2026.
Sementara itu, apabila mengacu pada target APBN sebesar Rp136,18 triliun, realisasi hingga September menyisakan sekitar Rp8,47 triliun untuk mencapai sasaran awal.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa target yang dicanangkan Bahlil lebih tinggi daripada kewajiban penerimaan yang sebelumnya ditetapkan dalam APBN.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 Kementerian ESDM berhasil membukukan PNBP sebesar Rp138,4 triliun.
Jumlah tersebut setara dengan 108,56 persen dari target 2025 sebesar Rp127,49 triliun.
Capaian tahun sebelumnya menjadi salah satu gambaran mengenai kontribusi sektor energi dan pertambangan terhadap penerimaan negara.
Penerimaan Batu Bara Tetap Terjaga meski Produksi Ditata Lebih Rendah
Sektor pertambangan batu bara masih menjadi salah satu penyumbang penting dalam struktur penerimaan negara dari sumber daya alam.
Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah melakukan penataan produksi batu bara pada 2026 dengan tingkat produksi yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2025, produksi batu bara Indonesia tercatat melampaui 800 juta ton.
Meskipun volume produksi tahun berikutnya ditata lebih rendah, penerimaan negara dari komoditas tersebut tetap menunjukkan perkembangan.
Hingga September 2026, realisasi PNBP sumber daya alam dari sektor batu bara telah mencapai 92,02 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa penerimaan batu bara tetap memberikan kontribusi besar terhadap sektor ESDM meskipun pemerintah menerapkan penyesuaian produksi.
Penataan tersebut juga menjadi bagian dari pengelolaan sektor pertambangan yang perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya, produksi, dan penerimaan negara.
Pemerintah menempatkan optimalisasi penerimaan sebagai salah satu perhatian penting dalam pengelolaan batu bara sepanjang 2026.
Sektor Migas Turut Menopang Penerimaan Negara
Selain pertambangan batu bara, kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) juga menjadi sektor yang berkontribusi terhadap penerimaan negara.
Bahlil menyoroti kinerja produksi minyak yang menunjukkan perkembangan pada 2025.
Pada tahun tersebut, realisasi lifting minyak nasional mencapai sekitar 605,9 ribu barel per hari dan berhasil melampaui target yang telah ditetapkan.
Capaian tersebut menjadi perhatian karena merupakan keberhasilan pertama dalam satu dekade terakhir untuk melampaui sasaran lifting minyak, sekaligus menandai perubahan dari tren penurunan produksi yang berlangsung selama sekitar sepuluh tahun.
Lifting minyak merupakan volume minyak bumi yang siap dijual dan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kinerja sektor hulu migas.
Kinerja lifting berkaitan dengan kemampuan produksi minyak nasional dan kontribusi sektor migas terhadap penerimaan negara.
Dalam upaya mencapai target PNBP yang lebih tinggi, pemerintah turut menempatkan optimalisasi sektor energi sebagai bagian dari strategi peningkatan pendapatan negara.
Lima Smelter Terintegrasi Rampung dengan Investasi 7,8 Miliar Dolar AS
Penguatan hilirisasi mineral menjadi perhatian lain pemerintah dalam mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Bahlil menyampaikan bahwa lima dari total 14 fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter terintegrasi telah selesai dibangun.
Pembangunan lima fasilitas tersebut mencatatkan investasi senilai 7,8 miliar dolar Amerika Serikat.
Penyelesaian proyek smelter merupakan bagian dari pengembangan industri pengolahan mineral nasional yang bertujuan meningkatkan pemanfaatan hasil pertambangan di dalam negeri.
Melalui pembangunan fasilitas pengolahan, pemerintah berupaya memperluas kegiatan industri berbasis mineral agar pengembangan sektor pertambangan tidak hanya bertumpu pada komoditas bahan mentah.
Penguatan industri pengolahan juga menjadi bagian dari strategi peningkatan nilai tambah ekonomi melalui aktivitas produksi di dalam negeri.
Pemerintah selanjutnya mendorong pengembangan industri lanjutan yang dapat memanfaatkan bahan hasil pemurnian mineral untuk menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Hilirisasi Nikel Didorong hingga Industri Baterai
Dalam pengembangan industri hilir, pemerintah memberikan perhatian terhadap penguatan rantai produksi berbasis mineral, khususnya nikel.
Bahlil mendorong pembangunan industri lanjutan yang mencakup pengolahan bahan prekursor, produksi material katoda, hingga pembuatan baterai.
Pengembangan tersebut diarahkan agar sumber daya mineral Indonesia dapat dimanfaatkan dalam rantai produksi yang lebih panjang di dalam negeri.
Dengan demikian, hasil pengolahan mineral tidak hanya menjadi bahan bagi industri luar negeri, tetapi juga dapat mendukung kegiatan manufaktur domestik.
Bahlil turut menempatkan nikel Indonesia sebagai salah satu komoditas yang berpotensi memiliki peran penting dalam rantai pasok industri hijau global.
Pengembangan industri pengolahan dan produk turunan nikel menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperkuat posisi Indonesia pada sektor industri berbasis mineral.
Namun, pengembangan hilirisasi juga harus berjalan bersamaan dengan pemenuhan kewajiban perusahaan pertambangan.
Bahlil menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan mineral dalam negeri, pelaksanaan reklamasi lahan bekas tambang, serta penerapan keselamatan kerja.
Ketiga aspek tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kegiatan pertambangan.
Investasi Sektor ESDM Capai 31,97 Miliar Dolar AS pada 2025
Selain penerimaan negara, perkembangan investasi juga menjadi salah satu indikator kinerja sektor energi dan sumber daya mineral.
Sepanjang 2025, total investasi sektor ESDM mencapai 31,97 miliar dolar Amerika Serikat.
Nilai tersebut mencerminkan besarnya kegiatan penanaman modal dalam berbagai bidang usaha yang berada di bawah sektor energi dan pertambangan.
Meski telah mencatatkan capaian investasi tersebut, Bahlil menegaskan bahwa hasil yang diperoleh tidak boleh membuat jajaran pemerintah berhenti melakukan pembenahan.
“Capaian ini adalah fondasi, bukan garis akhir,” ujar Bahlil.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa capaian yang telah diperoleh perlu menjadi dasar untuk melanjutkan peningkatan kinerja sektor ESDM.
Pemerintah masih perlu mendorong pelaksanaan berbagai program strategis agar investasi dan pengembangan industri dapat menghasilkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Bahlil Minta Jajaran ESDM Fokus pada Hasil Nyata
Dalam upaya mengejar target penerimaan Rp165 triliun, Bahlil meminta seluruh jajaran sektor ESDM meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap pelaksanaan program.
Ia menekankan pentingnya kejujuran, keberanian mengambil keputusan, serta komitmen untuk menuntaskan target yang telah ditetapkan.
Menurutnya, berbagai agenda dan kebijakan tidak boleh hanya berhenti pada penyusunan rencana maupun pencapaian administratif.
Setiap program harus diwujudkan melalui pelaksanaan yang menghasilkan capaian nyata dan dapat dipertanggungjawabkan.
Arahan tersebut berkaitan dengan upaya pemerintah menjaga kinerja penerimaan negara sekaligus melanjutkan pengembangan sektor energi dan hilirisasi.
Bahlil menginginkan agar jajaran yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kebijakan dapat bekerja secara optimal untuk memenuhi sasaran penerimaan hingga akhir tahun.
Target Rp165 Triliun Jadi Tantangan Akhir Tahun 2026
Target PNBP sektor ESDM sebesar Rp165 triliun mencerminkan upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara di atas sasaran yang ditetapkan dalam APBN 2026.
Dengan realisasi Rp127,71 triliun hingga September, masih diperlukan tambahan penerimaan untuk mencapai target yang dicanangkan Bahlil.
Kinerja sektor batu bara, minyak dan gas bumi, serta pelaksanaan kebijakan pengelolaan sumber daya alam menjadi aspek penting dalam pencapaian sasaran tersebut.
Di sisi lain, pengembangan hilirisasi mineral terus diarahkan untuk memperkuat industri pengolahan dan memperbesar nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Penyelesaian lima smelter terintegrasi, pengembangan industri baterai, serta investasi sektor ESDM menjadi bagian dari perkembangan yang disampaikan pemerintah.
Meski demikian, pencapaian target PNBP baru dapat dipastikan berdasarkan realisasi penerimaan hingga penutupan tahun anggaran 2026.
Melalui penguatan pengelolaan sektor energi, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan kinerja aparatur, pemerintah berupaya menjadikan sektor ESDM sebagai salah satu penopang penerimaan negara dan pertumbuhan industri nasional.
Sumber: Antara News Jambi


Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!