Warga Kunciran Jaya, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, akhirnya dapat merasa lega setelah mengalami krisis air bersih selama tiga bulan. Sumur bor bantuan dari aktivis Sabda Alam Indonesia Hijau (SAIH) mulai berfungsi sejak hari Minggu dan menjadi sumber air alternatif yang menggantikan ketergantungan pada distribusi air menggunakan mobil tangki.
Fasilitas tandon atau toren yang mendukung sumur bor baru dapat dimanfaatkan secara efektif pada Selasa, 13 Oktober 2026. Rusli Irawan, warga RT 3/2 Kunciran Jaya, menyatakan bahwa sumur bor tersebut sangat membantu masyarakat yang selama ini mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih.
Untuk saat ini sudah mulai. Aktivitasnya dari kemarin sudah bisa, cuma hari ini sudah mulai aktif. Torennya juga sudah mulai berfungsi, jadi warga sudah bisa mengambil air kapan saja sesuai kebutuhan,” ujar Rusli.
Dampak krisis air dan bantuan yang diterima
Sebelum sumur bor mulai beroperasi, warga RW 02 dan RW 03 sangat bergantung pada bantuan air dari BPBD, PMI, Dinas Pemadam Kebakaran, dan Dinas Lingkungan Hidup. Sayangnya, distribusi air melalui mobil tangki berkapasitas sekitar 8.000 liter berjalan tidak rutin, membuat masyarakat sering kehabisan air dan harus berjuang mengatur persediaan yang terbatas.
Warga Kunciran Jaya dulu harus rela mengantre hingga tengah malam menunggu mobil tangki air yang sering kali baru tiba sekitar pukul 00.00 hingga 01.00 WIB. Kini, kehadiran sumur bor mengubah segalanya; mereka bisa mendapatkan air bersih kapan saja tanpa tergantung pada jadwal distribusi yang kerap tidak menentu.
Pengiriman air yang seringkali tidak menentu membuat warga kerap kehabisan persediaan sebelum tangki datang kembali. Kini, berkat sumur bor yang mulai beroperasi, warga merasa lega karena air bersih tersedia setiap saat tanpa harus menunggu lama. “Pengirimannya kadang tidak rutin. Warga sudah kehabisan air, baru datang lagi. Sekarang sudah merasa terbantu karena air tersedia setiap saat,” tambah Rusli.
Kualitas air dan harapan warga
Awalnya, air yang mengalir dari sumur bor memang tampak keruh, tetapi seiring berjalannya waktu, kualitasnya membaik dan kini menjadi jernih. Warga pun berharap pemerintah dapat membangun sumur bor serupa di lokasi lain, sehingga akses air bersih menyebar lebih merata, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari titik sumber saat ini.
Setelah tiga bulan krisis air bersih, warga Kunciran Jaya, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, kini bisa bernapas lega berkat sumur bor bantuan aktivis Sabda Alam Indonesia Hijau (SAIH) yang mulai berfungsi sejak Minggu dan tandon yang efektif digunakan sejak Selasa, 13 Oktober 2026. Warga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada mobil tangki yang kapasitasnya sekitar 8.000 liter dan distribusinya tidak rutin. Sebelumnya, warga harus mengantre air hingga tengah malam dan mengandalkan bantuan dari BPBD, PMI, Dinas Pemadam Kebakaran, dan DLH. Rusli Irawan, warga RT 3/2, menyatakan, “Kalau untuk kualitas air, awal-awal memang masih keruh, tetapi sekarang sudah mulai bagus. Sudah mulai bening.” Kini warga bisa mengambil air kapan saja sesuai kebutuhan, meski berharap penanganan krisis air tidak berhenti pada satu sumur bor saja.
“Keinginan warga, sumur-sumur semacam ini dibuatkan lagi agar jangkauannya tidak terlalu jauh di satu titik,” harapnya.
Pemkot Tangerang tangani krisis air
Pemerintah Kota Tangerang menunjukkan komitmennya dalam mengatasi krisis air di Kunciran Jaya. Wakil Wali Kota Maryono Hasan turun langsung ke RT 004/RW 003 pada Selasa, 13 Oktober 2026, untuk memantau kondisi lapangan, memastikan pasokan air bersih terpenuhi, serta memetakan wilayah yang terdampak kekeringan. Langkah ini menjadi bukti nyata pemerintah tidak hanya mengandalkan bantuan sementara, tetapi juga berupaya memberikan solusi yang berkelanjutan bagi warga.
Penanganan dilakukan melalui koordinasi lintas perangkat daerah dan instansi terkait, seperti Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertanahan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, Perumda Tirta Benteng, serta PMI.
Dalam menghadapi dampak musim kemarau, yang utama adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan dengan cepat dan disertai pemetaan kondisi di lapangan agar langkah yang diambil sesuai dengan kebutuhan warga, ujar Maryono.
Ada empat titik permukiman yang menjadi fokus penanganan awal, yaitu RT 004/RW 003, RT 002/RW 002, RT 003/RW 002, dan RT 005/RW 003. Penanganan sementara dilakukan dengan menyalurkan air bersih dan mengisi tandon agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Maryono mengajak masyarakat memanfaatkan air dengan bijak selama proses penanganan krisis berlangsung. Ia menekankan pentingnya pengelolaan yang cermat agar pasokan air yang tersedia bisa mencukupi kebutuhan semua pihak hingga masalah benar-benar teratasi. Dengan kesadaran bersama, diharapkan masa sulit ini bisa dilewati tanpa pemborosan yang akan memperparah kondisi.
Sumber: Banten Ekspres




Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!