Terkini

KMSP Disabilitas dorong Lontara+ tambah fitur ramah difabel

KMSP Disabilitas dan SAFEnet meminta Pemkot Makassar melibatkan penyandang disabilitas dalam pembenahan aplikasi Lontara+. Rekomendasi ini menekankan akses layanan dasar yang inklusif.

Image Source: makassar.antaranews.com

Koalisi Masyarakat Sipil Peduli (KMSP) Disabilitas bersama SAFEnet mendorong Dinas Komunikasi dan Informasi Pemerintah Kota Makassar menambahkan fitur ramah difabel pada aplikasi Lontara+. Rekomendasi itu disampaikan dalam konferensi pers di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (22/10/2026), setelah riset menelaah aksesibilitas aplikasi super tersebut.

Tim Riset SAFEnet Ni Putu Chandra mengatakan riset mereka tidak menemukan pelibatan penyandang disabilitas maupun organisasi penyandang disabilitas dalam perencanaan, pengembangan, hingga evaluasi aplikasi Lontara+.

“Dari perencanaan, pengembangan, sampai evaluasi, dalam temuan kami, tidak ditemukan adanya pelibatan disabilitas dan Opdis (organisasi penyandang disabilitas) dalam pembuatan aplikasi tersebut,” ujar tim Riset SAFEnet Ni Putu Chandra saat konferensi pers di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (22/10).

Prinsip pelibatan difabel

KMSP Disabilitas dan SAFEnet mengajukan tiga prinsip utama dalam perbaikan aplikasi. Prinsip tersebut mencakup pelibatan bermakna penyandang disabilitas dan organisasi penyandang disabilitas, penempatan mereka sebagai mitra, serta penguatan layanan yang aman, transparan, dan responsif.

  • Pelibatan penyandang disabilitas dan organisasi penyandang disabilitas dalam seluruh proses.
  • Penyandang disabilitas diposisikan sebagai mitra, bukan objek atau penerima manfaat.
  • Layanan digital dibangun dengan prinsip keamanan, transparansi, dan responsivitas.

Layanan dasar dan perlindungan data

Putu Chandra juga menekankan perlunya integrasi layanan dasar Pemkot Makassar ke dalam Lontara+, mengingat aplikasi itu diklaim sebagai aplikasi super. Selain itu, perlindungan data pribadi dan transparansi layanan dinilai perlu terus disesuaikan dengan perkembangan regulasi.

Kepala Divisi Kesetaraan dan Inklusi SAFEnet Aseanty Pahlevi mengatakan riset serupa juga dilakukan di Pontianak dan DKI Jakarta. Riset itu menggunakan pendekatan sosio-legal untuk melihat aksesibilitas layanan pada aplikasi super dan mendorong kebijakan digital yang inklusif.

Akses untuk beragam kebutuhan

SAFEnet mendorong Diskominfo Pemkot Makassar membenahi Lontara+ dengan melibatkan penyandang disabilitas dan organisasi mereka. Harapannya, seluruh layanan dasar dalam aplikasi dapat diakses semua orang, termasuk pengguna dengan hambatan tertentu seperti Parkinson dan cerebral palsy.

Perwakilan Komunitas Kawan Netra, Ismail, menambahkan aplikasi tersebut perlu dibenahi melalui penambahan fitur khusus karena kebutuhan penyandang disabilitas beragam.

Sumber: Antara News Sulawesi Selatan

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *