Terkini

Kandang Closed House Tingkatkan Produktivitas Peternak Ayam di Magetan

Peternak ayam di Maospati, Magetan, memakai kandang closed house berbasis listrik PLN. Produksi telur naik sekitar 2 persen, namun pasokan listrik harus stabil.

Image Source: radarmadiun.jawapos.com

Pemanfaatan teknologi kandang tertutup atau closed house mulai memberikan dampak positif terhadap produktivitas peternakan ayam di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Sistem pemeliharaan yang mengandalkan pasokan listrik tersebut dinilai mampu menjaga kondisi lingkungan kandang, mengurangi risiko kematian ternak, serta meningkatkan produksi telur.

Salah satu peternak yang menerapkan teknologi tersebut adalah Budi Eko Prastyo, pengusaha peternakan ayam di Kecamatan Maospati yang juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Produsen Ternak Rakyat Magetan (Kopterma).

Budi memanfaatkan sistem kandang tertutup untuk menjaga kenyamanan ayam, terutama ketika menghadapi perubahan suhu dan kondisi cuaca ekstrem. Penggunaan teknologi ini membutuhkan dukungan pasokan listrik yang stabil karena berbagai peralatan pengatur suhu dan sirkulasi udara beroperasi menggunakan energi listrik.

Menurut Budi, listrik kini memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan usaha peternakan modern. Kebutuhan energi tidak lagi terbatas pada penerangan, tetapi juga menjadi penopang utama sistem pengendalian lingkungan kandang.

Teknologi Closed House Bantu Menjaga Produktivitas Ayam

Budi menjelaskan bahwa penerapan sistem closed house memungkinkan peternak mengendalikan kondisi suhu dan sirkulasi udara secara lebih optimal dibandingkan metode kandang terbuka.

Untuk menjalankan sistem tersebut, kandang dilengkapi dengan perangkat cooling pad atau bantalan pendingin berair yang ditempatkan pada bagian depan bangunan. Sementara itu, perangkat blower dipasang pada bagian belakang untuk mendukung perputaran dan pertukaran udara.

Seluruh perangkat tersebut dioperasikan menggunakan panel kontrol otomatis sehingga pengaturan lingkungan kandang dapat dilakukan secara terintegrasi.

Keberadaan sistem pendinginan dan sirkulasi udara menjadi penting untuk menjaga kenyamanan ternak ketika suhu lingkungan meningkat.

Berdasarkan pengalaman Budi, penggunaan kandang tertutup memberikan hasil yang lebih baik dalam menjaga kondisi ayam. Selain membantu menekan tingkat kematian ternak, sistem tersebut mampu meningkatkan produktivitas telur sekitar 2 persen dibandingkan kandang terbuka.

Peningkatan tersebut menunjukkan manfaat penerapan teknologi dalam mendukung efisiensi dan keberlangsungan usaha peternakan.

Kelola Puluhan Ribu Ayam, Produksi Telur Capai 110 Kilogram per Hari

Dalam menjalankan usahanya, Budi memiliki kapasitas peternakan yang mencakup 20.000 ekor ayam pullet atau ayam betina muda yang belum memasuki masa produksi telur, serta 10.000 ekor ayam petelur atau layer.

Namun, tingginya harga pakan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam pengelolaan usaha peternakan tersebut.

Untuk menyesuaikan kegiatan operasional dengan kondisi biaya produksi, Budi saat ini mengaktifkan sekitar 2.000 ekor ayam yang secara rutin menghasilkan telur.

Dari jumlah ayam yang dioperasikan tersebut, produksi telur tercatat mencapai sekitar 110 kilogram setiap hari.

Kondisi ini menggambarkan bagaimana peternak harus mengatur skala operasional di tengah tekanan biaya pakan, sekaligus mempertahankan produktivitas melalui penggunaan teknologi pemeliharaan yang lebih terkendali.

Penerapan kandang tertutup menjadi salah satu langkah yang digunakan Budi untuk menjaga hasil produksi, meskipun operasionalnya memerlukan dukungan energi listrik secara terus-menerus.

Biaya Listrik Peternakan Mencapai Rp16 Juta per Bulan

Di balik manfaat teknologi closed house, terdapat konsekuensi biaya operasional yang cukup besar.

Budi mengungkapkan bahwa pengeluaran listrik untuk menunjang kegiatan peternakannya mencapai Rp14 juta hingga Rp16 juta setiap bulan.

Besarnya kebutuhan tersebut tidak terlepas dari penggunaan perangkat pendingin, pengatur udara, serta sistem kontrol otomatis yang harus bekerja untuk mempertahankan kondisi kandang.

Ketergantungan terhadap listrik juga menghadirkan risiko tersendiri bagi peternak. Gangguan pasokan maupun penurunan tegangan dapat memengaruhi kinerja perangkat sirkulasi udara.

Dalam sistem kandang tertutup, gangguan terhadap peralatan tersebut berpotensi membahayakan keselamatan ternak karena kondisi udara di dalam kandang sangat bergantung pada sistem pengendalian yang digunakan.

Budi menilai kestabilan pasokan listrik menjadi kebutuhan mendasar yang tidak dapat diabaikan dalam operasional peternakan modern.

Karena itu, keberadaan jaringan listrik yang andal memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan produksi sekaligus menjaga keselamatan ayam.

Peternak Siagakan Genset untuk Antisipasi Pemadaman

Untuk mengantisipasi kemungkinan terputusnya pasokan listrik utama dari PT PLN (Persero), Budi telah menyiapkan generator set atau genset dengan kapasitas 20 kilovolt-ampere (kVA).

Peralatan tersebut berfungsi sebagai sumber energi cadangan apabila terjadi gangguan pada jaringan listrik.

Dengan tersedianya genset, perangkat sirkulasi udara diharapkan tetap dapat dioperasikan ketika pasokan utama mengalami pemadaman.

Langkah antisipasi ini dilakukan karena perubahan kondisi udara di dalam kandang dapat berdampak langsung terhadap keselamatan ayam.

Budi menegaskan bahwa keberlangsungan sistem closed house sangat bergantung pada ketersediaan energi yang stabil. Gangguan listrik dalam operasional kandang tertutup bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga dapat menimbulkan risiko kerugian akibat kematian ternak.

Oleh sebab itu, penyediaan sumber listrik cadangan menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan peternakan yang menggunakan teknologi tersebut.

Keandalan Listrik PLN Jadi Kebutuhan Peternakan Modern

Perkembangan penggunaan teknologi kandang tertutup memperlihatkan semakin besarnya kebutuhan energi listrik dalam sektor peternakan.

Bagi peternak seperti Budi, listrik menjadi komponen penting dalam menjalankan seluruh sistem pengaturan lingkungan kandang. Ketersediaannya memengaruhi kemampuan peternak menjaga kenyamanan ayam serta mempertahankan produktivitas telur.

Peran listrik dalam operasional kandang closed house juga mendapat perhatian dari PT PLN (Persero), mengingat pentingnya pasokan energi untuk mendukung kegiatan usaha peternakan.

Penerapan sistem ini menunjukkan bahwa modernisasi peternakan dapat memberikan manfaat berupa peningkatan produktivitas dan pengurangan risiko kematian ternak. Namun, manfaat tersebut juga harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur energi serta pengelolaan biaya operasional.

Dengan peningkatan produktivitas telur sekitar 2 persen dibandingkan kandang terbuka, pengalaman Budi menjadi gambaran mengenai potensi penerapan teknologi dalam kegiatan peternakan ayam di Magetan.

Di sisi lain, tingginya tagihan listrik dan kebutuhan pasokan energi yang berkelanjutan menunjukkan bahwa keandalan listrik tetap menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan sistem peternakan modern.

Sumber: Radar Madiun

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *