Deposito MNC Bank (BABP) Menguap Rp2,7 Triliun dalam Setahun
PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) mencatat penurunan dana pihak ketiga (DPK) pada akhir September 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Deposito menjadi komponen yang paling tertekan, sementara MNC Bank sedang disorot setelah sejumlah nasabah menyuarakan kesulitan transaksi dan penarikan dana di media sosial.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut memberi perhatian atas persoalan tersebut. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, berdasarkan pengawasan otoritas, tidak ada masalah serius pada bank swasta itu meski muncul rumor bangkrut.
“Bank ini tidak ada isu yang serius sama sekali. Tidak ada isu-isu yang terkait dengan solvensi dan lain sebagainya,” kata Dian kepada wartawan di Makassar, Selasa (3/11/2026).
Terkait kemungkinan gangguan teknis maupun likuiditas yang menyebabkan nasabah gagal menarik tunai, OJK berharap MNC Bank segera menyelesaikan persoalan yang ada. Dian juga meminta masyarakat tetap tenang dan terus berkomunikasi dengan pihak bank.
DPK menyusut 17,13 persen
Himpunan simpanan MNC Bank tercatat Rp11,32 triliun per 30 September 2026, turun 17,13 persen secara tahunan dari Rp13,66 triliun. Nilai tersebut terdiri atas giro Rp1,20 triliun, tabungan Rp1,62 triliun, dan deposito Rp8,50 triliun.
Deposito turun paling besar, yakni 24,35 persen secara tahunan atau Rp2,74 triliun. Penyusutan deposito itu lebih tinggi daripada penurunan DPK secara keseluruhan yang mencapai Rp2,34 triliun; tabungan juga turun tipis 0,51 persen, sedangkan giro tumbuh 51,01 persen menjadi Rp1,20 triliun, tetapi belum menutup penurunan deposito.
Laba bersih dan aset ikut turun
Sepanjang sembilan bulan 2026, BABP membukukan laba bersih Rp46,63 miliar, turun 22,78 persen secara tahunan. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2026, beban bunga meningkat 51,05 persen, lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan bunga 6,52 persen, sehingga pendapatan bunga bersih tertekan 44,52 persen menjadi Rp389,76 miliar dari Rp434,29 miliar.
Pendapatan komisi tumbuh 56,59 persen menjadi Rp100,3 miliar dari Rp43,71 miliar, tetapi keuntungan penjualan aset keuangan turun 42 persen menjadi Rp17,25 miliar. Beban tenaga kerja naik 9,51 persen menjadi Rp184,45 miliar, beban promosi bertambah 3,83 persen menjadi Rp17,93 miliar, dan beban lainnya naik 7,82 persen menjadi Rp248,08 miliar.
Kredit tetap tumbuh
Laba operasional BABP turun 18,12 persen menjadi Rp52,42 miliar, dengan laba nonoperasional Rp6,72 miliar per akhir September 2026. Setelah pajak penghasilan, laba bersih tercatat Rp46,63 miliar atau turun 13,8 persen dari Rp60,39 miliar pada kuartal III tahun sebelumnya; aset juga menyusut 8,29 persen dari Rp20,49 triliun menjadi Rp18,79 triliun, sementara kredit yang diberikan tumbuh 8,38 persen dari Rp11,09 triliun menjadi Rp12,02 triliun.
Sumber: CNBC Indonesia


Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!