Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajak pemerintah daerah bersama masyarakat untuk mengaktifkan kembali budaya gotong royong sebagai langkah mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi saat memasuki musim penghujan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan bahwa kegiatan gotong royong dapat dilakukan melalui pembersihan saluran air, bantaran sungai, waduk, tanggul, serta jalur aliran air lainnya. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah penyumbatan yang berpotensi menimbulkan genangan hingga banjir.
Upaya mitigasi berbasis masyarakat ini juga diperkuat melalui Surat Edaran Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2026 yang ditandatangani Kepala BNPB Kristomei Sianturi pada 30 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diterbitkan sebagai respons terhadap masa peralihan musim yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.
BNPB mencatat hingga 3 November 2026 terdapat 2.285 kejadian bencana alam di Indonesia. Sebanyak tujuh kejadian di antaranya merupakan peristiwa baru berupa banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Beberapa kejadian tersebut dilaporkan terjadi di Lumajang, Jawa Timur, serta Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, yang menimbulkan korban jiwa.
Berton menegaskan bahwa meningkatnya potensi bencana harus menjadi perhatian seluruh pihak. Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini terkait kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada 4 November 2026.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Selain membersihkan lingkungan, BNPB mengingatkan masyarakat untuk melakukan berbagai langkah kesiapsiagaan. Di antaranya mengenali jalur evakuasi yang aman, menyiapkan tas siaga bencana untuk kebutuhan minimal tiga hari, serta memeriksa kondisi infrastruktur pendukung, termasuk bendungan.
Untuk mengantisipasi angin kencang, masyarakat diminta memperkuat struktur atap rumah, memangkas ranting pohon yang berpotensi patah, dan menghindari lokasi di sekitar benda yang rawan roboh, seperti papan reklame.
Sementara dalam menghadapi ancaman tanah longsor, warga diimbau segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi hujan deras dalam waktu lama. Masyarakat juga perlu memperhatikan tanda-tanda pergerakan tanah, seperti munculnya retakan pada permukaan tanah maupun lantai bangunan.
BNPB turut mengingatkan masyarakat agar selalu mengikuti perkembangan informasi cuaca dan kebencanaan melalui kanal resmi BNPB maupun BPBD setempat. Untuk melaporkan kondisi darurat, masyarakat dapat menghubungi layanan darurat BNPB melalui nomor 117.
Melalui penguatan budaya gotong royong dan kesiapsiagaan bersama, BNPB berharap pemerintah daerah serta masyarakat dapat mengurangi risiko bencana dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan selama musim hujan.



Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!