Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai merah dan tomat, menjadi faktor utama pendorong inflasi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Oktober 2026. Berkurangnya hasil panen akibat kondisi cuaca turut memengaruhi ketersediaan pasokan dan pergerakan harga komoditas hortikultura di pasaran.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul, inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) pada Oktober 2026 mencapai 0,32 persen. Sementara itu, inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) tercatat sebesar 3,12 persen dan inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) mencapai 2,05 persen.
Kepala BPS Gunungkidul, Agus Hartanto, menjelaskan bahwa tingkat inflasi tahunan tersebut masih berada dalam rentang sasaran pengendalian inflasi pemerintah. Meski demikian, perkembangan inflasi sepanjang 2026 dinilai relatif lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Cabai Merah dan Tomat Dominasi Inflasi Bulanan
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau tercatat memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulanan Gunungkidul pada Oktober 2026, yakni sebesar 0,30 poin persentase.
Dari kelompok tersebut, cabai merah menjadi komoditas dengan andil inflasi tertinggi sebesar 0,08 poin persentase. Posisi berikutnya ditempati tomat dengan kontribusi 0,05 poin persentase dan beras sebesar 0,04 poin persentase.
Selain ketiga komoditas tersebut, kenaikan harga sejumlah bahan pangan lainnya juga turut memengaruhi inflasi daerah.
Cabai rawit dan buncis masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,03 poin persentase. Sementara itu, kacang panjang dan cabai hijau masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 poin persentase.
Komoditas lain, yakni bayam, bawang merah, serta labu siam atau jipang, masing-masing tercatat menyumbang 0,01 poin persentase terhadap inflasi bulanan.
Besarnya kontribusi komoditas pangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga bahan makanan menjadi faktor yang menonjol dalam pergerakan inflasi Gunungkidul selama Oktober.
Penurunan Curah Hujan Berdampak pada Hasil Panen Cabai
Agus Hartanto menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai merah berkaitan dengan berkurangnya pasokan akibat perubahan kondisi cuaca selama September hingga Oktober 2026.
Penurunan curah hujan pada periode tersebut berdampak terhadap hasil panen petani. Sejumlah tanaman cabai merah mengalami kegagalan panen sehingga jumlah komoditas yang tersedia di pasaran berkurang.
“Pengaruh musim, curah hujan yang berkurang ketika September-Oktober itu mengakibatkan banyak yang gagal panen untuk komoditas cabai merah,” jelas Agus.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga cabai merah dan memperbesar kontribusinya terhadap inflasi bulanan.
Perubahan produksi akibat faktor cuaca memperlihatkan hubungan antara ketersediaan hasil pertanian dan pergerakan harga pangan di tingkat konsumen.
Ketika hasil panen berkurang, pasokan komoditas di pasar dapat mengalami penurunan. Situasi tersebut turut memengaruhi perkembangan harga, sebagaimana tercatat dalam data inflasi Gunungkidul pada Oktober 2026.
Pasokan Melimpah, Harga Daging Ayam Ras Justru Turun
Berbeda dengan sejumlah komoditas hortikultura yang mengalami kenaikan harga, daging ayam ras justru menjadi penyumbang deflasi terbesar di Gunungkidul pada Oktober 2026.
BPS mencatat daging ayam ras memberikan andil deflasi sebesar minus 0,03 poin persentase. Penurunan harga tersebut berkaitan dengan melimpahnya pasokan ayam di pasaran.
Agus menjelaskan bahwa jumlah persediaan yang melebihi kebutuhan pasar dapat menyebabkan harga komoditas mengalami penurunan.
“Untuk komoditas daging ayam itu banyak suplainya. Ketika terjadi oversupply, kita tahu harganya menjadi turun,” ungkap Agus.
Selain daging ayam ras, sejumlah komoditas lainnya juga memberikan kontribusi terhadap penurunan harga.
Semangka, apel, jeruk, dan nugget masing-masing tercatat menyumbang deflasi sebesar 0,01 poin persentase.
Kondisi ini memperlihatkan adanya perbedaan pergerakan harga antarjenis komoditas. Ketika sebagian bahan pangan mengalami kenaikan akibat berkurangnya pasokan, komoditas lain justru mengalami penurunan harga karena ketersediaannya melimpah.
Inflasi Tahunan Dipengaruhi Harga Cabai Rawit, Beras, dan Emas
Dalam perhitungan tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kabupaten Gunungkidul.
Kelompok tersebut memberikan andil sebesar 1,28 poin persentase terhadap inflasi tahunan Oktober 2026.
Berbeda dengan inflasi bulanan yang terutama dipicu cabai merah dan tomat, kenaikan harga cabai rawit serta beras menjadi faktor utama dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada perhitungan tahunan.
Selain kebutuhan pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi tahunan, yakni sebesar 0,84 poin persentase.
Peningkatan pada kelompok tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan.
Dengan demikian, perkembangan inflasi tahunan Gunungkidul tidak hanya dipengaruhi harga kebutuhan pangan, tetapi juga perubahan harga komoditas di luar sektor makanan.
Perbedaan penyumbang inflasi bulanan dan tahunan menunjukkan bahwa setiap periode penghitungan memiliki faktor pendorong yang dapat berbeda sesuai perkembangan harga komoditas.
Pergerakan Harga Pangan Jadi Perhatian dalam Inflasi Daerah
Capaian inflasi tahunan Gunungkidul sebesar 3,12 persen pada Oktober 2026 menunjukkan adanya kenaikan harga barang dan jasa dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski masih berada dalam rentang sasaran pengendalian inflasi pemerintah, BPS mencatat bahwa tingkat inflasi sepanjang 2026 relatif lebih tinggi dibandingkan periode serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
Kenaikan harga cabai merah dan tomat menjadi faktor utama inflasi bulanan, sedangkan cabai rawit dan beras memberikan kontribusi penting terhadap inflasi tahunan.
Di sisi lain, penurunan harga daging ayam ras akibat melimpahnya pasokan turut menahan tekanan inflasi dari sejumlah komoditas pangan lainnya.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai dinamika harga kebutuhan masyarakat di Gunungkidul, khususnya hubungan antara kondisi cuaca, hasil pertanian, ketersediaan pasokan, dan perubahan harga di tingkat konsumen.
Perkembangan harga pangan menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam memahami pergerakan inflasi daerah pada periode berikutnya.


Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!