Terkini

Inflasi Indonesia Melandai, Stabilitas Ekonomi Masih Dibayangi Risiko Eksternal

Inflasi Indonesia turun menjadi 3,23 persen pada Oktober 2026, tetapi risiko kenaikan energi dan pelemahan rupiah masih membayangi ekonomi.

Image Source: sumsel.antaranews.com

JAKARTA – Perlambatan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 dinilai memberikan ruang bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi. Meski demikian, risiko kenaikan harga energi dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih perlu diwaspadai.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, mengatakan inflasi yang lebih rendah dapat membantu menjaga kondisi ekonomi dalam jangka pendek. Namun, penyusutan surplus perdagangan berpotensi mengurangi kemampuan Indonesia dalam menghadapi gejolak aliran modal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen, turun dari 3,28 persen pada September. Inflasi inti juga mengalami penurunan menjadi 2,56 persen dari sebelumnya 2,84 persen. Sementara itu, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,22 persen dan inflasi inti bulanan sebesar 0,12 persen.

Irman menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor energi sekaligus mendorong biaya produksi dalam negeri. Kondisi tersebut dapat semakin membebani perekonomian apabila rupiah terus mengalami pelemahan.

Dampaknya terhadap harga konsumen akan bergantung pada kondisi permintaan, kemampuan perusahaan menyerap kenaikan biaya, serta kebijakan pemerintah dalam menentukan harga energi.

Selain energi, tekanan inflasi juga berasal dari kelompok pangan. Pada Oktober 2026, inflasi kelompok harga bergejolak mencapai 5,81 persen secara tahunan, terutama dipengaruhi kenaikan harga cabai dan tomat. Kelompok tersebut menyumbang 0,13 poin persentase terhadap inflasi bulanan, sementara kenaikan tarif angkutan udara turut memberikan tekanan.

Dari sektor perdagangan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 masih mencatat surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS atau sekitar Rp61,02 triliun. Meski demikian, angka tersebut sedikit menurun dibandingkan Agustus yang mencapai 3,55 miliar dolar AS atau sekitar Rp64,47 triliun.

Surplus perdagangan September ditopang peningkatan ekspor produk terkait minyak sawit dan mesin listrik, serta penurunan impor minyak dan gas sebesar 7,4 persen secara bulanan. Kondisi ini turut mempersempit defisit perdagangan migas menjadi 2,32 miliar dolar AS.

Namun, Irman memperkirakan surplus perdagangan berpotensi menyusut menjelang akhir tahun akibat meningkatnya kebutuhan impor minyak, bahan baku, dan barang modal untuk mendukung aktivitas industri dalam negeri.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur versi S&P Global meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dibandingkan 52,4 pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, surplus perdagangan kumulatif Januari hingga September 2026 tercatat sebesar 10,61 miliar dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33,54 miliar dolar AS.

Menghadapi kondisi tersebut, Irman menilai stabilitas eksternal perlu terus dijaga melalui pengelolaan likuiditas dan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Penyesuaian suku bunga juga dinilai dapat diperlukan guna mempertahankan daya tarik aset berdenominasi rupiah.

Irman mempertahankan proyeksi BI-Rate pada akhir 2026 sebesar 6,25 persen, dengan stabilitas eksternal sebagai salah satu pertimbangan utama.

Sementara itu, Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Oktober 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi.

Bank Indonesia juga menyebut inflasi Oktober masih berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Upaya pengendalian dilakukan melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, termasuk menjaga pasokan serta stabilitas harga pangan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *