Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 0,22 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai merah, cabai rawit, dan tomat, menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan tersebut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,51 persen dengan kontribusi 0,15 persen terhadap inflasi umum.
Cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar, yakni 0,13 persen. Selanjutnya, cabai rawit menyumbang 0,05 persen dan tomat sebesar 0,04 persen. Sejumlah sayuran lain, seperti sawi hijau, labu siam, dan sawi putih, juga turut memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen.
Selain komoditas pangan, tarif angkutan udara ikut mendorong inflasi dengan kontribusi sebesar 0,01 persen. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami deflasi sebesar 0,06 persen. Penurunan harga emas perhiasan menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.
Berdasarkan komponen pembentuknya, harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,77 persen dengan kontribusi 0,13 persen terhadap inflasi umum. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh harga cabai merah, cabai rawit, tomat, serta beberapa jenis sayuran.
Sementara itu, inflasi komponen inti tercatat sebesar 0,12 persen dengan kontribusi 0,07 persen. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dengan andil 0,02 persen. Tarif angkutan udara menjadi salah satu komoditas yang dominan memengaruhi komponen tersebut.
Dari sisi wilayah, sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi bulanan pada Oktober 2026, sedangkan lima provinsi lainnya mencatat deflasi. Papua Selatan menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 1,12 persen, sementara Gorontalo mengalami deflasi terdalam sebesar 0,67 persen.
Secara keseluruhan, kenaikan harga cabai dan sejumlah bahan pangan masih menjadi faktor penting dalam pergerakan inflasi nasional. Perkembangan harga komoditas tersebut menjadi perhatian dalam menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat.

Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!