Malaria masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia. Hingga Juli 2026, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 346.866 kasus malaria secara nasional. Angka tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan, terutama di wilayah yang masih memiliki risiko penularan tinggi.
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang telah terinfeksi. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, khususnya masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di kawasan endemis malaria.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia+1
Gejala malaria umumnya ditandai dengan demam, menggigil, dan berkeringat. Penderitanya juga dapat mengalami sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot, serta tubuh terasa lemas. Gejala tersebut dapat muncul setelah seseorang terpapar gigitan nyamuk pembawa parasit malaria.
Gejala malaria dapat muncul beberapa hari hingga sekitar satu bulan setelah seseorang terinfeksi. Dalam kondisi tertentu, tanda-tanda penyakit bahkan baru dirasakan setelah satu tahun atau lebih. Karena itu, masyarakat yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah endemis perlu tetap memperhatikan kondisi kesehatannya.
Apabila tidak segera ditangani, malaria dapat berkembang menjadi kondisi serius. Beberapa tanda bahaya yang perlu diwaspadai meliputi kesulitan bernapas, kejang, kulit dan mata menguning, serta urine berwarna gelap atau bercampur darah. Komplikasi berat juga dapat menyebabkan gangguan pada otak, koma, hingga kegagalan fungsi organ.
Selain melalui gigitan nyamuk Anopheles yang terinfeksi, penularan malaria juga dapat terjadi melalui ibu kepada bayi selama kehamilan atau persalinan, transfusi darah, donor organ, serta penggunaan jarum suntik secara bergantian.
Untuk mencegah penularan, masyarakat yang tinggal atau bepergian ke wilayah endemis dianjurkan menggunakan losion antinyamuk, mengenakan pakaian tertutup, dan tidur dengan kelambu. Bagi orang yang akan mengunjungi daerah berisiko, dokter juga dapat memberikan obat profilaksis sesuai kebutuhan.
Masyarakat yang mengalami gejala setelah beraktivitas atau bepergian dari wilayah endemis diimbau segera melakukan pemeriksaan darah di fasilitas kesehatan. Deteksi dini dan pengobatan yang tepat menjadi langkah penting untuk mencegah malaria berkembang menjadi penyakit berat.




Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!