Pemanfaatan energi terbarukan mulai membawa perubahan dalam pengelolaan sektor pertanian di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Melalui penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), petani di Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban, kini dapat mengoperasikan pompa irigasi tanpa harus mengeluarkan biaya pembelian listrik seperti sebelumnya.
Manfaatkan Energi Surya, Petani Blora Pangkas Biaya Irigasi dan Tingkatkan Hasil Panen Organik
Petani di Desa Sidorejo, Kabupaten Blora, mulai memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya untuk mendukung irigasi pertanian organik. Inovasi ini membantu mengurangi biaya operasional sekaligus mendukung peningkatan pr
Inovasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan pertanian organik yang didukung program Pusat Agrikultur dan Organik Pertamina (Pusaka). Selain membantu menekan biaya produksi, penggunaan energi ramah lingkungan juga memperkuat upaya petani dalam menjaga produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Salah satu petani yang merasakan manfaatnya adalah Suparman, anggota Kelompok Tani Jemari Agung. Pada Senin (26/10/2026), ia kembali menyiapkan lahan persemaian setelah menyelesaikan panen padi sekitar sepekan sebelumnya.
Aktivitas pengairan kini dilakukan dengan memanfaatkan pompa yang memperoleh pasokan listrik dari panel surya. Sebelumnya, petani harus membeli token listrik untuk mengoperasikan peralatan tersebut.
“Sudah tidak lagi beli token listrik,” ujar Suparman.
Energi Surya Jadi Solusi Kebutuhan Irigasi
Wilayah persawahan di Desa Sidorejo belum dilengkapi jaringan irigasi. Selama ini, petani mengandalkan sumur bor berkedalaman sekitar 40 meter sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Air dari sumur tersebut dialirkan menuju lahan pertanian menggunakan pompa listrik. Pengoperasian pompa sebelumnya menjadi salah satu komponen biaya yang harus ditanggung petani setiap musim tanam.
Kondisi tersebut mulai berubah setelah Kelompok Tani Jemari Agung menerima bantuan PLTS berkapasitas 10 kilowatt-peak (kWp) pada 2026.
Fasilitas itu merupakan hasil kolaborasi program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Pertamina EP Field Cepu bersama PT Pertamina (Persero).
Kepala Desa Sidorejo, Agung Heri, menjelaskan bahwa pembangkit tersebut mampu mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian seluas sekitar 8 hingga 10 hektare dengan sistem penggunaan bergantian.
Menurutnya, keberadaan PLTS memberikan keuntungan ekonomi karena mengurangi pengeluaran petani untuk mengoperasikan pompa air.
Sebelum menggunakan tenaga surya, kebutuhan listrik untuk mengairi satu hektare sawah dalam satu musim tanam dapat mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta, bergantung pada kondisi cuaca.
Dengan penggunaan energi matahari, biaya listrik untuk pengoperasian pompa yang sebelumnya ditanggung petani dapat dihilangkan.
Penghematan tersebut menjadi penting mengingat petani di wilayah Sidorejo mampu melakukan penanaman padi hingga tiga kali dalam setahun.
Pertanian Organik Dikembangkan untuk Memulihkan Produktivitas Lahan
Pemanfaatan PLTS merupakan bagian dari transformasi pertanian yang sebelumnya telah dimulai melalui penerapan sistem budidaya organik.
Agung Heri mengungkapkan bahwa perubahan pola pertanian dilakukan setelah petani menghadapi persoalan penurunan produktivitas dan kegagalan panen berulang.
Dalam kurun waktu 1990 hingga 2020, penggunaan pupuk kimia secara intensif menjadi praktik yang umum dilakukan petani setempat.
Jumlah pupuk yang digunakan bahkan pernah mencapai 500 kilogram hingga satu ton per hektare. Angka tersebut jauh melampaui takaran pembanding sebesar 350 kilogram per hektare yang disampaikan Agung.
Menurutnya, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka panjang berdampak terhadap kondisi tanah dan hasil pertanian.
Persoalan tersebut mendorong pemerintah desa bersama petani untuk mencari pendekatan budidaya yang lebih berkelanjutan.
Koordinasi kemudian dilakukan dengan Dinas Pertanian, organisasi nonpemerintah, tenaga ahli, serta kalangan akademisi guna merumuskan langkah perbaikan pengelolaan lahan.
Dari proses tersebut, pertanian organik dipilih sebagai salah satu pendekatan untuk membantu memulihkan kondisi tanah sekaligus menjaga produktivitas pertanian.
Upaya ini mendapat penguatan melalui pendampingan program Pusaka Pertamina yang mulai dilaksanakan di Desa Sidorejo pada 2023.
Petani memperoleh pelatihan mengenai pengelolaan lahan secara organik, pengurangan penggunaan pupuk kimia, serta pembuatan pupuk dan pestisida hayati.
Produktivitas Padi Meningkat hingga Dua Kali Lipat
Penerapan metode pertanian organik secara bertahap mulai menunjukkan perkembangan positif.
Agung Heri menyebutkan bahwa produktivitas padi yang sebelumnya berada pada kisaran 4 ton per hektare meningkat menjadi sekitar 8 ton per hektare.
Peningkatan tersebut tidak terjadi secara langsung pada musim tanam pertama, melainkan mulai terlihat setelah petani menjalankan metode budidaya organik pada periode penanaman berikutnya.
Selain meningkatkan hasil panen, Kelompok Tani Jemari Agung juga berhasil memperoleh sertifikasi beras organik.
Sertifikasi tersebut membuka peluang pemasaran yang lebih luas karena produk beras organik memiliki segmen pasar tersendiri dan dapat dipasarkan dengan harga lebih tinggi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa perubahan sistem budidaya tidak hanya berkaitan dengan perbaikan kondisi lahan, tetapi juga memberikan peluang peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.
Pendampingan Pertamina Berlangsung Sejak 2019
Community Development Officer Pertamina EP Field Cepu, Muhammad Fikri Farras, menjelaskan bahwa program Pusaka Blora telah dikembangkan sejak 2019.
Pelaksanaan awal program dilakukan di Desa Bajo sebelum diperluas ke sejumlah wilayah lainnya.
Pada 2023, cakupan pendampingan diperluas ke Desa Wado, Pulo, Sumber, Mojorembun, dan Sidorejo.
Program tersebut melibatkan tenaga ahli untuk memberikan pelatihan kepada petani mengenai praktik pertanian organik, termasuk pengolahan pupuk dan pestisida hayati serta pengelolaan lahan dengan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia.
Setelah program pertanian organik berjalan, dukungan energi terbarukan diberikan melalui program Desa Energi Berdikari Pertamina.
Kehadiran PLTS menjadi pelengkap pendampingan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Jika program Pusaka berfokus pada perbaikan metode budidaya, fasilitas tenaga surya mendukung kebutuhan energi untuk kegiatan pengairan.
Dengan demikian, pengembangan pertanian di Sidorejo mencakup dua aspek utama, yakni pengelolaan lahan secara berkelanjutan dan efisiensi energi dalam proses produksi.
Mesin Pengering Tenaga Surya Direncanakan pada 2027
Dukungan terhadap pengembangan pertanian organik di Blora direncanakan berlanjut pada tahun mendatang.
Muhammad Fikri Farras mengungkapkan adanya rencana penyediaan mesin pengering hasil panen berbasis tenaga surya pada 2027.
“Ke depan 2027, kami merencanakan bantuan lanjutan berupa mesin pengering hasil panen yang menggunakan panel surya,” ungkapnya.
Apabila rencana tersebut terealisasi, pemanfaatan energi terbarukan tidak hanya digunakan dalam proses irigasi, tetapi juga dapat mendukung penanganan hasil panen.
Fasilitas pengering diharapkan membantu petani menjaga kualitas gabah dan beras setelah proses pemanenan.
Pengembangan tersebut menjadi kelanjutan dari transformasi pertanian di Desa Sidorejo yang menggabungkan praktik budidaya organik dengan teknologi energi bersih.
Melalui pemanfaatan sumber daya matahari, petani kini memiliki alternatif pengairan yang lebih efisien sekaligus peluang untuk memperkuat keberlanjutan produksi pertanian di tengah tantangan biaya operasional dan kebutuhan air pada musim kemarau.
Bagaimana reaksi Anda?


Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!