Terkini

DPR Nilai Hilirisasi Nikel Baterai Ubah Peta Ekonomi RI

Komisi XII DPR menilai pengolahan nikel hingga menjadi baterai kendaraan listrik dapat memperkuat ekonomi dan kemandirian energi Indonesia.

Images Source : CNBC Indonesia

Hilirisasi Nikel Sampai Baterai Jadi Game Changer Ekonomi RI

Komisi XII DPR menilai hilirisasi pertambangan Indonesia telah berkembang hingga produksi baterai kendaraan listrik berbasis nikel. Anggota Komisi XII DPR dari Fraksi Golkar Bambang Patijaya menyebut perkembangan itu dapat menjadi pengubah peta permainan bagi perekonomian dan kemandirian energi nasional.

Perkembangan baterai juga dinilai mengubah tren otomotif nasional. Masyarakat yang sebelumnya mengandalkan kendaraan berbahan bakar minyak mulai melirik kendaraan listrik berbasis baterai.

Hilirisasi nikel dan energi

Menurut Bambang, peralihan tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap BBM yang masih didominasi impor. Energi untuk kendaraan listrik, menurut dia, dapat berasal dari dalam negeri.

“Hari ini tiba-tiba nikel limonit (bijih nikel kadar rendah, untuk bahan baku baterai), 10 tahun lalu gak dilirik, gak ada yang minat, sekarang dicari karena pasar berkembang. Hilirisasi sudah berjalan, misalkan nikel, tidak semata-mata berkembang di sektor smelting, yang lain juga berkembang. Saat mereka berkembang, bisa dikembangkan untuk baterai, itulah game changer ,” kata Bambang dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk “Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?”, dikutip Kamis (29/10/2026).

Baterai lithium masih diimpor

Meski Indonesia telah memproduksi baterai berbasis nikel, Bambang mengatakan pengembangan baterai berbasis lithium juga perlu didorong. Baterai lithium masih dipasok melalui impor sehingga Indonesia perlu membangun kemampuan produksi di dalam negeri.

“Jenis baterai yang kita punya masih nikel base, kalau baterai lithium itu masih impor, sehingga harus ada pendorong agar Indonesia bisa memproduksi baterai lithium,” ucapnya.

Kapasitas untuk kendaraan listrik

Bambang mengatakan perkembangan baterai lithium semakin baik seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik. Baterai lithium di Indonesia, menurut dia, masih dalam tahap pengembangan, tetapi disebut telah mulai berproduksi dengan kapasitas setara kebutuhan 100.000 mobil listrik per tahun.

Ia juga menilai hilirisasi berlangsung di berbagai bidang, termasuk pertambangan dan industri lain, dengan kecepatan yang berbeda-beda. Menurut Bambang, tantangan berikutnya adalah menguraikan masalah yang muncul dalam proses pengembangan tersebut.

Sumber: CNBC Indonesia

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *