Perum Bulog akan melelang sebanyak 380 ribu ton beras yang mengalami penurunan mutu dengan memprioritaskan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia. Kebijakan ini dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan cadangan pangan pemerintah sekaligus menjaga nilai ekonomi beras yang kualitasnya menurun selama penyimpanan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan bahwa proses lelang tidak hanya dipusatkan di Jakarta, tetapi juga dilaksanakan melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) di berbagai daerah. Dengan demikian, UMKM dari berbagai wilayah memiliki kesempatan untuk memperoleh bahan baku bagi kegiatan usahanya.
Beras yang dilelang merupakan stok yang mengalami penurunan kualitas setelah disimpan selama lebih dari enam bulan. Pemanfaatan kembali beras tersebut dinilai penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut yang berpotensi menimbulkan kerugian negara.
Dalam skema ini, beras akan dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pengolahan tepung. Bulog bertindak sebagai penyedia beras melalui mekanisme lelang, sedangkan proses pengolahan menjadi tepung dilakukan oleh pelaku usaha yang memenangkan lelang.
Pemerintah menetapkan harga minimum lelang sebesar Rp11.000 per kilogram. Harga tersebut diharapkan tetap memberikan nilai ekonomi bagi stok beras sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mendapatkan bahan baku dengan harga yang kompetitif.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, sebelumnya menyampaikan bahwa hilirisasi 380 ribu ton beras tersebut merupakan langkah untuk mengoptimalkan cadangan beras pemerintah yang jumlahnya mencapai lebih dari lima juta ton. Pengolahan beras menjadi tepung juga diharapkan menambah ketersediaan bahan baku industri dan membantu menekan harga tepung di pasaran.
Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap stok beras yang mengalami penurunan mutu tetap dapat dimanfaatkan secara produktif. Selain mengurangi potensi kerugian negara, program tersebut diharapkan mendukung perkembangan UMKM dan memperkuat rantai pasok industri pangan nasional.



Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!