Harga cabai rawit di tingkat petani Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mengalami penurunan setelah sebelumnya sempat mencapai Rp52.000 per kilogram. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, harga komoditas tersebut tercatat berada di kisaran Rp46.000 per kilogram atau turun Rp6.000 dari posisi sebelumnya.
Meskipun mengalami penurunan, kondisi tersebut belum menimbulkan kekhawatiran besar bagi sebagian petani. Harga jual yang masih berada di atas Rp30.000 per kilogram dinilai tetap memberikan keuntungan dari hasil panen.
Perubahan harga mulai dirasakan petani sejak Kamis, 22 Oktober 2026. Sebelum mengalami koreksi, cabai rawit masih diperdagangkan dengan harga lebih dari Rp50.000 per kilogram.
Hafit, petani cabai asal Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, mengungkapkan bahwa perubahan harga cabai dapat berlangsung cukup cepat dengan selisih penurunan yang relatif besar.
Menurutnya, penurunan sebesar Rp6.000 per kilogram merupakan perubahan yang cukup berarti. Namun, harga saat ini masih berada pada tingkat yang dinilai menguntungkan bagi petani.
Harga Cabai Rawit Turun Rp6.000 dalam Waktu Singkat
Pergerakan harga cabai rawit di Situbondo menunjukkan adanya koreksi setelah komoditas tersebut sebelumnya mengalami kenaikan hingga mencapai Rp52.000 per kilogram.
Dalam perkembangannya, harga turun menjadi Rp46.000 per kilogram. Penurunan ini setara dengan sekitar 11,5 persen dibandingkan harga sebelumnya.
Hafit menjelaskan bahwa harga cabai rawit mulai mengalami penurunan sejak Kamis, 22 Oktober 2026. Perubahan tersebut cukup terasa karena sebelumnya harga masih bertahan pada kisaran di atas Rp50.000 per kilogram.
Bagi petani, selisih harga beberapa ribu rupiah per kilogram dapat memengaruhi nilai penjualan hasil panen, terutama ketika jumlah cabai yang dipasarkan cukup besar.
Meski demikian, penurunan yang terjadi saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap perhitungan keuntungan usaha tani Hafit.
Ia menilai harga jual Rp46.000 per kilogram masih memberikan ruang keuntungan yang cukup baik dibandingkan batas harga yang dianggap menguntungkan oleh petani.
Pasokan Cabai Melimpah Diduga Menekan Harga Pasar
Hingga saat ini, penyebab pasti penurunan harga cabai rawit di tingkat petani belum diketahui secara menyeluruh.
Hafit mengaku belum dapat memastikan faktor utama yang menyebabkan harga mengalami penurunan dalam waktu relatif singkat.
Namun, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari para tengkulak, jumlah pasokan cabai di pasar mulai meningkat seiring dengan membaiknya hasil produksi petani.
Bertambahnya ketersediaan cabai tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga di tingkat produsen.
Selain peningkatan pasokan, kondisi daya beli masyarakat juga disebut mengalami penurunan sehingga turut diperkirakan memberikan tekanan terhadap harga jual.
Kombinasi antara meningkatnya jumlah cabai yang tersedia dan melemahnya permintaan diperkirakan berkontribusi terhadap penurunan harga yang dirasakan petani.
Kendati demikian, penjelasan tersebut masih berdasarkan informasi yang diterima petani dari pelaku perdagangan dan belum menjadi kesimpulan pasti mengenai penyebab perubahan harga.
Cuaca Panas Berpotensi Memengaruhi Produksi Cabai
Di tengah penurunan harga, petani juga menghadapi tantangan lain yang berkaitan dengan kondisi cuaca.
Hafit mengungkapkan bahwa suhu panas yang terjadi belakangan ini mulai berdampak terhadap pertumbuhan tanaman cabai.
Menurutnya, sejumlah tanaman cabai mengalami kekeringan akibat paparan cuaca yang terlalu panas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu produktivitas tanaman apabila berlangsung dalam waktu berkepanjangan.
Hafit memperkirakan bahwa cuaca panas dapat memengaruhi jumlah produksi cabai pada periode berikutnya.
Apabila tanaman terus mengalami kekeringan dan hasil panen berkurang, ketersediaan cabai di pasar berpotensi mengalami perubahan.
Situasi tersebut dapat memengaruhi kembali keseimbangan antara pasokan dan permintaan yang selama ini berperan dalam pergerakan harga komoditas pertanian.
Karena itu, meskipun harga cabai saat ini sedang mengalami penurunan, Hafit menilai peluang kenaikan harga masih terbuka apabila produksi petani terganggu akibat cuaca.
Perkiraan tersebut didasarkan pada kondisi tanaman yang diamatinya dan belum merupakan kepastian mengenai arah pergerakan harga pada masa mendatang.
Petani Masih Mendapat Keuntungan pada Harga di Atas Rp30 Ribu
Hafit menjelaskan bahwa harga cabai rawit yang berada di atas Rp30.000 per kilogram sudah dapat memberikan keuntungan bagi petani.
Dengan harga saat ini mencapai Rp46.000 per kilogram, nilai penjualan hasil panen masih dinilai cukup baik untuk mendukung keberlanjutan usaha pertanian.
Pandangan tersebut membuat penurunan harga yang terjadi belum terlalu memengaruhi perhitungan keuntungan dari hasil panennya.
Meski demikian, besaran keuntungan yang diperoleh tetap berkaitan dengan hasil produksi dan kondisi usaha tani masing-masing petani.
Bagi Hafit, harga jual yang lebih tinggi tentu memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan dari hasil panen.
Oleh karena itu, meskipun harga sekarang masih dianggap menguntungkan, ia tetap berharap nilai jual cabai rawit dapat kembali meningkat.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa harga komoditas pertanian masih menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan petani dalam menjalankan kegiatan usaha mereka.
Petani Berharap Harga Cabai Bisa Kembali Meningkat
Di tengah harga yang mulai melandai, Hafit tetap memiliki harapan agar harga cabai rawit kembali bergerak naik.
Ia bahkan menyampaikan keinginannya agar harga komoditas tersebut dapat mencapai Rp100.000 per kilogram.
Namun, angka tersebut merupakan harapan pribadi petani terhadap peningkatan nilai jual hasil panen, bukan perkiraan harga yang dipastikan akan terjadi.
Hafit menyadari bahwa pergerakan harga cabai sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar dan ketersediaan hasil produksi.
Sementara itu, cuaca panas yang saat ini memengaruhi kondisi tanaman menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikannya.
Apabila dampak cuaca menyebabkan penurunan produksi, kondisi pasokan cabai pada periode mendatang dapat mengalami perubahan dan berpotensi memengaruhi harga pasar.
Dengan harga yang masih mencapai Rp46.000 per kilogram, petani cabai di Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa, tetap melihat peluang keuntungan dari hasil panen.
Meski telah mengalami penurunan dari posisi sebelumnya, harga tersebut dinilai masih cukup menguntungkan oleh Hafit, sementara perkembangan produksi dan kondisi cuaca menjadi perhatian terhadap pergerakan harga cabai berikutnya.

Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!