BNPB siapkan mitigasi kekeringan akibat El Nino hingga 2027
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan mitigasi untuk menghadapi potensi mundurnya awal musim hujan hingga awal 2027 akibat fenomena El Nino sangat kuat. Kesiapsiagaan mencakup penanganan kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penyaluran air bersih bersama pemerintah daerah dan lembaga terkait.
“Kami terus memantau dan mengevaluasi setiap pemutakhiran data cuaca yang disampaikan BMKG terkait potensi kekeringan berkepanjangan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Penanganan harian hingga mingguan
BNPB bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah menyusun langkah penanganan harian hingga mingguan untuk mengendalikan dampak kekeringan dan karhutla. Salah satu langkahnya ialah operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memperbesar potensi hujan melalui penyemaian NaCl dan bahan sejenis.
“Misalnya, operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memperbesar potensi hujan dengan menyemai NaCl dan semacamnya. Satuan tugas udara masih terus bekerja sesuai analisisnya,” ujar Berton.
Direktorat Pengendalian Bencana BNPB melaporkan penanganan kebakaran di sejumlah provinsi prioritas. Luas lahan terbakar yang ditangani meliputi 7.938 hektare di Kalimantan Tengah, 1.974 hektare di Kalimantan Selatan, dan 1.290 hektare di Kalimantan Barat.
Penanganan juga dilakukan pada 5.194 hektare lahan terbakar di Sumatera Selatan serta 2.025 hektare di Jambi. Di luar penanganan karhutla, BNPB bersama pemerintah daerah dan organisasi atau lembaga nirlaba menyalurkan bantuan air bersih bagi wilayah terdampak kekeringan.
Kekeringan di Jawa Tengah dan DIY
Di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kekeringan terjadi setelah periode hari tanpa hujan mencapai 131 hari atau lebih dari empat bulan. BMKG mencatat kondisi tersebut dipengaruhi El Nino yang sangat kuat.
Berton mengatakan BNPB akan terus mengevaluasi kesiapsiagaan dan mitigasi agar penanganan bencana dapat disesuaikan dengan perkembangan di lapangan. Evaluasi itu juga menjadi dasar penentuan langkah yang perlu dilakukan selanjutnya.
Musim hujan diproyeksikan mundur
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menyampaikan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik mencapai +2,63 derajat, yang menunjukkan El Nino kategori sangat kuat dan diproyeksikan bertahan hingga awal 2027. BMKG memperkirakan awal musim hujan di sebagian besar Indonesia datang lebih lambat, mencakup 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia.
Musim hujan diperkirakan mulai bertahap pada November 2026 di 185 Zona Musim yang mencakup 24,66 persen daratan, lalu Desember 2026 di 266 Zona Musim yang mencakup 17,31 persen daratan. Meski awal musim hujan mundur, akumulasi curah hujan di 510 Zona Musim atau 69,76 persen luas daratan diprediksi tetap normal, sementara puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027 dan durasinya di 482 Zona Musim lebih pendek dari kondisi normal.
Sumber: Antara News Bengkulu



Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!