Terkini

Maggot BSF di TPS Citra Raya Tangerang Urai 320 Kilogram Sampah Organik per Hari

Budidaya maggot lalat tentara hitam di TPS CitraRaya, Tangerang, dimanfaatkan untuk mereduksi sampah organik setiap hari. Pengelolanya, Opay, mengandalkan proses biokonversi dari larva BSF.

Budidaya maggot lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF) di TPS CitraRaya, Tangerang, dimanfaatkan untuk mereduksi sekitar 320 kilogram sampah organik setiap hari. Opay, pengelola budidaya tersebut, mengandalkan larva itu untuk mengonsumsi sisa makanan dan bahan organik yang sesuai.

Maggot merupakan larva dari lalat BSF dengan nama ilmiah Hermetia illucens. Serangga ini berasal dari kawasan Amerika tropis dan menyebar ke wilayah tropis dan subtropis, termasuk Asia, serta dimanfaatkan dalam pengelolaan sampah perkotaan.

Perkembangan dari telur hingga maggot

Menurut Opay, proses budidaya dimulai dari telur yang menetas menjadi larva kecil atau baby maggot. Dari 10 gram telur, budidaya yang dikelolanya bisa sampai menghasilkan sekitar 1 kilogram baby maggot, yang kemudian berkembang menjadi sekitar 10–15 kilogram maggot.

“Dari 10 gram telur bisa menjadi 1 kilogram baby. Satu kilogram baby bisa menjadi 10 sampai 15 kilogram maggot,” ujar Opay.

Hasil budidaya tersebut tetap dipengaruhi kondisi telur, pakan, suhu, kelembapan, serta pengelolaan media. Maggot tidak menghilangkan seluruh sampah dalam waktu singkat, tetapi menjadi bagian dari pengolahan sisa makanan, sayuran, buah, dan bahan organik lain yang sesuai.

Siklus hidup dan biokonversi

BSF mengalami metamorfosis sempurna melalui fase telur, larva, prepupa, pupa, hingga lalat dewasa. Dalam kondisi mendukung, keseluruhan siklus hidupnya dapat berlangsung sekitar 40–45 hari, sementara fase larva umumnya berlangsung dua hingga tiga pekan.

Pada fase larva, maggot mengonsumsi bahan organik dan mengubahnya menjadi biomassa larva serta residu melalui proses biokonversi. Setelah berkembang, larva memasuki fase prepupa dan pupa sebelum menjadi lalat dewasa yang aktivitas utamanya berkaitan dengan perkawinan dan reproduksi.

Perlu pengelolaan yang tepat

Larva BSF berbeda dengan belatung lalat rumah, meski sama-sama berasal dari kelompok lalat. Budidaya maggot tetap memerlukan kebersihan, pengendalian lingkungan, serta pemilahan bahan organik karena tidak semua jenis sampah dapat diolah.

Pemanfaatan BSF di Indonesia berkembang seiring perhatian terhadap sampah perkotaan dan pencarian sumber pakan alternatif. Selain untuk pengolahan bahan organik, larva BSF juga dilirik pembudidaya ikan dan unggas karena kandungan proteinnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan.

Sumber: Lensa Banten

Bagaimana reaksi Anda?
Nilai artikel ini
Belum ada penilaian

Mungkin Anda suka

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *