LAMPUNG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung tengah menyiapkan kebijakan baru untuk meningkatkan daya tarik investasi sekaligus memperkuat industri pengolahan komoditas unggulan daerah. Salah satu sektor yang mendapat perhatian adalah pengembangan industri kakao di Kabupaten Pesawaran.
Kebijakan tersebut direncanakan melalui rancangan peraturan daerah (Raperda) mengenai pemberian insentif dan kemudahan penanaman modal. Regulasi ini diharapkan dapat mendorong investor membangun fasilitas pengolahan sehingga hasil perkebunan lokal memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menjelaskan bahwa pemerintah daerah berupaya menghadirkan berbagai kemudahan bagi pelaku usaha yang ingin berinvestasi pada sektor industri berbasis komoditas unggulan.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah ingin menciptakan ekosistem investasi yang mendukung pembangunan industri pengolahan sekaligus meningkatkan daya saing produk daerah.
Langkah ini juga didukung perkembangan investasi Lampung yang menunjukkan tren positif. Realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) tercatat mencapai sekitar Rp7,03 triliun, meningkat hampir 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain potensi sumber daya alam dan tenaga kerja, Lampung memiliki sejumlah faktor pendukung investasi, seperti pelayanan perizinan berbasis digital, dukungan kebijakan pemerintah, serta kondisi sosial dan keamanan yang relatif stabil.
Pesawaran Diproyeksikan Jadi Pusat Pengembangan Kakao
Kabupaten Pesawaran menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pengembangan industri berbasis komoditas unggulan. Daerah ini memiliki potensi besar di sektor perkebunan kakao, pariwisata, serta industri pengolahan hasil pertanian.
Pemerintah provinsi juga telah memberikan dukungan infrastruktur, mulai dari pembangunan jalan, penyediaan listrik, hingga fasilitas air minum untuk menunjang aktivitas ekonomi dan investasi di wilayah tersebut.
Pengembangan Pesawaran diarahkan untuk memperkuat perannya sebagai kawasan strategis yang mendukung sektor pariwisata, ekonomi kreatif, ketahanan pangan, serta industri berbasis teknologi.
Hilirisasi kakao menjadi bagian penting dari rencana tersebut. Melalui pengembangan industri pengolahan, komoditas kakao diharapkan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Produksi Kakao Pesawaran Capai 21 Ribu Ton per Tahun
Bupati Pesawaran, Nanda Indira, menyampaikan bahwa kakao merupakan salah satu komoditas andalan yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi industri unggulan daerah.
Produksi kakao di Kabupaten Pesawaran mencapai sekitar 21.000 ton setiap tahun. Sejumlah wilayah yang menjadi sentra perkebunan kakao antara lain Kecamatan Gedong Tataan, Way Ratai, dan Kedondong.
Potensi produksi tersebut membuka peluang investasi di berbagai bidang, mulai dari peningkatan produktivitas perkebunan, pengolahan biji kakao, hingga pengembangan produk turunan seperti cokelat.
Pemerintah Kabupaten Pesawaran juga berupaya meningkatkan kualitas bahan baku dan mendorong penerapan teknologi pengolahan modern agar produk kakao lokal mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Dari sisi ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pesawaran pada 2025 tercatat sekitar Rp4,5 triliun. Sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang utama perekonomian daerah, sementara perdagangan serta industri pengolahan dinilai memiliki peluang untuk terus berkembang.
Hilirisasi Diharapkan Buka Lapangan Kerja Baru
Pengembangan industri kakao di Pesawaran tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan nilai jual hasil perkebunan, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Keberadaan fasilitas pengolahan diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru, memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta membuka peluang pengembangan pariwisata berbasis produk lokal.
Selain itu, kerja sama antara pemerintah, investor, pelaku usaha, dan petani menjadi faktor penting dalam membangun rantai pasok kakao yang berkelanjutan.
Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dalam pengembangan kawasan industri dan aktivitas ekonomi.
Melalui regulasi insentif investasi serta penguatan hilirisasi, Lampung berharap mampu meningkatkan daya saing komoditas unggulan, memperluas peluang ekspor, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat daerah.


Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!